Sabtu, 30 September 2023

REKAM JEJAK M.RAUDAH JAMBAK (BIODATA)



 REKAM JEJAK M.RAUDAH JAMBAK (BIODATA)


I. Aktivitas Kepenulisan/ Sastra
1. Instruktur Tetap tentang Penulisan Kreatif di Sanggar Generasi Medan (1995-sekarang)
2. Ketua Teater LKK IKIP Medan (1994-1995)
3. Ketua Komunitas Home Poetry (2008-sekarang)
4. Pembina/Instruktur Forum Lingkar Pena (FLP) Medan/Sumatera Utara (2004-sekarang)
5. Pengurus HISKI Sumatera Utara (2005-sekarang)
6. Koordinator Sastra SIAN SUMUT (2008-20013)
7. Anggota (Pengurus) LITBANG HSBI SUMUT (2009-2014)
8. Ketua MGMP Se-Perguruan Panca Budi (2008-2010)
9. Ketua AGBSI Medan (2009)
10. Anggota FKS (1999)
11. Ketua Forum Kontak Sastra (1999-sekarang)
12. Program Penulisan Cerpen Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor (2003)
13. Dewan Juri dalam “Pergelaran Sastra” Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (2006)
14. Juri Lomba Drama Tingkat SD Perpustakaan Panca Budi (2006)
15. Juri Lomba Baca Puisi Tingkat SMP Perpustakaan Panca Budi (2006)
16. Dewan Juri dalam “Parade Teater SMA se-Kota Medan” (2006)
17. Dewan Juri Lomba Baca Puisi “Temu Ramah dan Kreasi” FBS-Universitas Negeri Medan (2007)
18. Dewan Juri Cipta Puisi dalam “Festival Lomba Seni & Sastra Nasional (FLS2N) SMP/MTs” Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (2008)
19. Dewan Juri Cipta Puisi dalam “Festival Lomba Seni & Sastra Nasional (FLS2N) SMP/MTs” Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (2009)
20. Dewan Juri Cipta Puisi dalam “Festival Lomba Seni & Sastra Nasional (FLS2N) SMP/MTs” Dinas Pendidikan Medan (2009)
21. Instruktur Seminar dan Workshop Penulisan Puisi “Medan Urban Arts Festival” (2008)
22. Dewan Juri Lomba Baca Puisi “The 2nd Medan International Poetry Gathering” DIKBUDPAR-Urban Arts Associates (2008)
23. Pemateri dalam “Pelatihan Menulis untuk Guru” Serikat Guru Indonesia Kota Medan (2009)
24. Dewan Juri dalam “Perlombaan Bahasa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia” FBS-Universitas Negeri Medan (2008)
25. Dewan Juri Cipta Cerpen dalam “Short Stories Competition (STROM) (2008)
26. Dewan Juri Lomba Pidato HUT Kejaksaan Tinggi Negeri Sumatera Utara (2008)
27. Dewan Juri Baca Puisi HUT kemerdekaan RI Departemen Perdagangan (2007)
28. Dewan Juri Cipta & Baca Puisi “Ajang Kreativitas Mahasiawa” Senat Mahasiswa Universitas Negeri Medan (2008)
29. Instruktur Workshop Penulisan Jurnalistik IAIN Sumatera Utara (2007)
30. Pembicara UU anti Pornoaksi/Pornografi di IAIN Sumatera utara
31. Mengikuti Festival Puisi Internasional di Medan (2007)
32. Mengikuti Temu Sastrawan Indonesia I di Jambi (2008)
33. Juri Lomba Pidato “Gelegar Bulan Bahasa” FBS Universitas Negeri Medan (2002)
34. Juri Lomba Baca Puisi “Gelegar Bulan Bahasa” FBS Universitas Negeri Medan (2002)
35. Juri Festival Drama se-Universitas Negeri Medan (1999)
36. Juri Festival Drama se-Universitas Negeri Medan (2000)
37. Juri Gemilang Prestasi Panca Budi I s/d V (2005-2010)
38. Juri/Pengamat Parade Teater Sekolah I-V Sumatera Utara (2000-2005)
39. Pengamat tetap PARADE TEATER PELAJAR dari 2003 s/d 2006
40. Platih teater di beberapa sekolah sampai sekarang
41. Instruktur Acting D’WIN DOWS PRODUC TIONS sampai 2008
42. Tampil dalam TASSEMATA di TBSU 1994.
43. Aktor naskah ABRA KA DAB RA karya Suyadi San adaptasi cerpen Danarto di pentas tertutup TIM Jakarta, 1996 dalam rangkaian Pekan Seni Mahasis wa tingkat Nasional.
44. Aktor/Sutradara dalam naskah MENYIBAK TIRAI MASA DEPAN 1997 di Pardede Hall.
45. Aktor dalam naskah WA JAH KITA karya Suyadi San 1998 di hotel GARUDA PLAZA Konvention Hall.
46. Aktor dalam naskah TRAGEDI AL-HALLAJ karya Abdul Hadi WM di Hotel Tiara Konvention Hall 1999.
47. Aktor dalam PE TANG DI TAMAN karya Iwan Simatupang di TBSU 2000.
48. Aktor dalam Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang 1996
49. Aktor Parodi PEJUANG 2000 di Departeman Pariwisata, Seni dan Budaya Pematang Siantar.
50. Aktor dalam naskah MARNI karya Amiruddin AR di TVRI Medan 2001.
51. Aktor dalam naskah TANAH GARAPAN karya Amiruddin AR di TVRI 2002.,
52. Aktor Monolog ANJING MASIH MENGGONGONG (2004).
53. Menyutra darai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Suma tera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki.
54. Aktor JODOH PARADE TEATER SUMUT 2006 di TBSU.
55. Menyutradarai PEREMPUAN TANPA KEPALA di TBSU 2007.
56. Aktor JODOH SABTU TERTAWA ALA KAMPUSI 2008 di TBSU.
57. Menyutradarai TIURMAIDA 08/09 di TBSU.
58. Di 2009 dalam CUBLIS di TBSU terlibat sebagai Co- Sutradara-bersama penulis/pemain Hasan Al-Banna, dalam rangkaian Jaringan Teater Se-Sumatera di LAMPUNG. Saat ini selain di FKS, HISKI, SIAN, AGBSI, HSBI dan GENERASI juga membidani Komunitas Home Poetry (Komunitas HP-1997) sekaligus sebagai Ketua Umum, juga bertugas di beberapa sekolah sebagai staf
II. Prestasi Kepenulisan/ Sastra 1. Juara II “Sayembara Menulis Puisi se-Sumatera” TELKOMSEL (2004)
2. Juara II “Sayembara Menulis Puisi Kemerdekaan se-Sumatera” TELKOMSEL (2004)
3. Juara II Sayembara Pantun dalam “Seminar Nasional Datuk Badiuzzaman Surbakti Sri Indera Pahlawan (2004)
4. Juara II Lomba Baca Puisi “Piala Kantata Bangsa I se-Sumatera Utara” Yayasan Kantata Bangsa (2004)
5. Finalis “Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda” Departemen Pendidikan Nasional RI (2007)
6. Juara II “Sayembara Menulis Puisi” Dewan Kesenian Medan (2004)
7. Juara II Sayembara Menulis Puisi TELKOMSEL se-Sumatera (2005)
8. Nominasi Program Reguler Lomba Menulis Cerpen Guru Tingkat Nasional (2007)
9. Juara III Program khusus Lomba Menulis Cerpen Guru Tingkat Nasional (2008)
10. Mengikuti workshop Cerepen MASTERA, di Bogor (2003)
11. Mengikuti workshop MMAS, di Bogor (2007)
12. MENGIKUTI Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003)
13. MENGIKUTI workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003),
14. Seminar seni dan budaya pada Pameran dan Perge laran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh (2004)

III. Karya Kepenulisan di Surat Kabar 1. Mimbar Umum (Medan)
2. Analisa (Medan)
3. Waspada (Medan)
4. Sumut Pos
5. Harian Sumatra
6. Harian Warta Kita (Medan)
7. Andalas (Medan)
8. Radar Medan
9. Sinar Medan
10. Suara Medan
11. Portibi (Medan)
12. Analog (Medan)
13. Taruna Mandiri (Medan)
14. Harian Global (Medan)
15. Medan Pos
16. Majalah Gong (Yogyakarta)
17. Lampung Post
18. Suara Rakyat Merdeka (Jakarta)
19. Suara Karya (Jakarta)
20. Ben (Yogyakarta)
21. Banjar Masin Post
22. Majalah Srikandi
23. Majalah Horison (Jakarta)
24. Majalah Siasah Malaysia
25. Kompas Online (Jakarta)
IV. Karya Kepenulisan di Buku Antologi bersama Penulis Lain
1. Antologi Puisi MEDITASI (Sastra religius, 1999)
2. Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih (Sastra religius, 2000)
3. Antologi esay PARADE TEATER SEKOLAH (Aster, 2003)
4. Antolgi Esay 25 Tahun Omong-Omong Sastra (2004)
5. Antologi Puisi 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002)
6. Antologi Puisi Amuk Gelombang (Star Indonesia Production:2005)
7. Antologi Puisi Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Bahasa Medan:2005)
8. Antologi Puisi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang:2006)
9. Antologi Puisi Medan Puisi (2007)
10. Antologi Puisi Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008)
11. Antologi Pusi Penyair Muda Malaysia-Indonesia (PENA Malaysia:2009)
12. Antologi Puisi, Cerpen, dan Naskah Drama Medan Sastra (TSS-TSSU:2007)
13. Antologi Puisi dan Cerpen Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008)
14. Antologi Cerpen 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda 2007: LOKTONG (CWI:2007)
15. Antologi Cerpen Tembang Bukit Kapur (ESCAEVA Jakarta:2007)
16. Antologi Cerpen RANESI – RADIO NEDERLAND SIARAN INDONESIA (GRASINDO:2009)
17. Antologi Cerpen Denting (DKM:2006)
18. Antologi Cerpen Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkalpinang:2009)
19. Antologi Cerpen Dari Pemburu Sampai Ke Teraupetik Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Pusat Bahasa:2003)

V. Aktivitas di Bidang Teater 1. Aktif di Teater LKK Universitas Negeri Medan (1993-1997)
2. Aktif di Teater Generasi Medan (1995-sekarang)
3. Instuktur Senior di Teater Generasi Medan (1995-sekarang)
4. Instruktur Tamu di Teater LKK Universitas Negeri Medan (1997-sekarang)
5. Instruktur Tamu di Teater Alif (2005-2007)
6. Aktor Tamu di Teater Nasional (1999)
7. Aktor Tamu di Teater Anak Negeri (2000)
8. Aktor Tamu di Teater Merdeka (1999/2007)
9. Aktor Tamu di Teater Nuansa (2000)
10. Aktor Tamu di teater Imago (1999/2003)
11. Aktor Tamu di Teater Patria (1993-2006)
12. Sutradara Tamu di teater BLOK (2008)
VI. Prestasi di Bidang Teater 1. Juara Harapan I Kelompok Teater Lomba Teater Mahasiswa se—Indonesia di Jakarta (1995)
2. Sutradara Teater Peraih Gelar Penampilan Terbaik II Parade Teater Sekolah II Sumatera Utara (2003)
3. Juara III Festival Teater Dewan Kesenian Medan (2000)
4. Juara III Parodi EXTRA VAGANZA SIAN SUMUT (2009)

VII. Peristiwa/ Pementasan Teater yang Pernah Diikuti 1. Mengikuti Pertemuan Teater Se-Sumatera di Aceh (2000)
2. Mengikuti Eksebisi Teater se-Indonesia di Medan (2001)
3. Mengikuti Festival Teater Alternatif GKJ Awards di Jakarta (2003)
4. Menyutradarai naskah Sang Penyair karya M. Raudah Jambak-TBSU (1994).
5. Menyutradarai naskah Perempuan Tanpa Kepala (2001)
6. Menyutradarai naskah Pelajaran karya Bakdi Soemanto (2002)
7. Menyutradarai Penjaja Kereta Sorong karya Murray Schisgal (2002)
8. Aktor monolog Tamu Terakhir karya M. Raudah Jambak (2003).
9. Aktor/Sutradara monolog TEROR karya M. Raudah Jambak (2008).
10. Menyutradarai monolog Indonesia Under Cover karya Suyadi San (2005).
11. Aktor dalam naskah Jodoh karya Ys. Rat (1996/2004)
12. Aktor dalam naskah RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang (2007)
13. Menyutradarai Bulu Dada Adaptasi Cerpen Ketiak Bakdi Soemanto (2005)
14. Mengikuti Workshop Teater “Festival Teater Alternatif GKJ” di TIM Jakarta (2004)
15. Sutradara TIURMAIDA naskah AFRION adaptasi Cerpen Hasan Al Banna (2008)
16. Mengikuti Parade Pertunjukan Teater “KALA Sumatera” di Bandarlampung (2009)
17. Co-Sutradara dalam monolog Cublis karya Hasan Al Banna (2009)

CAMPUR SARI JEJAK
No Judul Jenis)* Penerbit Tahun Terbit Keterangan
1) KECAMUK Antologi Puisi Sastra Leo Medan 1999
2) SERATUS UNTAI BIJI TASBIH Antologi Puisi Sastra Religius Medan 2000
3) MEDITASI Antologi Puisi Sastra Religius Medan 2001
4) TENGOK Antologi Puisi Arsas Medan 2002
5) 25 Tahun OOS Antologi esay Sastra Leo 2003
6) TEMBANG BUKIT KAPUR Antologi Cerpen katanya Escave 2007
7) RANESI Antologi Cerpen Grasindo 2007
8) DENTING Antologi Cerpen Dewan Kesenian Medan 2006
9) 6 Penyair Urban Antologi Puisi Laboratarium Sastra 2008
10) Tanah Pilih Antologi Puisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi 2008
11) 5,9 Skala Richter Antologi Puisi Jogja 2006
12) 50 Botol Infus Antologi Puisi LKK Unimed 2006


No Mata Pelajaran / Bidang Studi Instruktur /Guru Inti/ Tutor/ Pemandu Tempat Keterangan
1) Bahasa Indonesia/cipta puisi Instruktur Taman Budaya Sumatera Utara
2) Bahasa Indonesia/Teori dan apresiasi puisi Instruktur Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah
3) Bahasa Indonesia/Bedah buku Lasykar Pelangi Moderator Panca Budi Medan
4) Bedah Buku/Quantum Teaching Pemakalah (Ketua) Panca Budi
5) Diskusi LP3B Anggota/Peserta Panca Budi
6)



No Nama/ Jenis Diklat Tempat Waktu Pelaksanaan
(……..jam) Penyelenggara Keterangan
a. Diklat MMAS (membaca, menulis dan apresiasi sastra) Jakarta 26 Sep-1Okt 2005 (84 Jam) Dirjen Manajemen Pend. Dasar dan Menengah
b. Penulisan Mastera : Cerpen CisaruaBogor 9-15 Agustus 2003 (84 Jam) Majelis Sastra Asia tenggara dan Pusat Bahasa
c. Penelitian Tindakan Kelas Universitas negeri Medan 23 -25 Mei 2008(30 Jam) STAI Hikmatul Fadillah Medan
d. Pembelajaran Pakem dan CTL Panca Budi Medan 25-27 Desember 2007/2-7 Januari 2008 Perguruan Panca Budi Medan
e. Team Character Building Panca budi Medan 7 Juli 2007 Panca Budi Medan
f. Kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Dinas Pendidikan SUMUT 26-30 Desember 2006 (50 Jam) Dinas Pendidikan SUMUT
g. Uji coba Instrumen Penilaian Buku Teks Pelajaran Seni Budaya, Keterampilan, Penjasorkes, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Hotel TIARA Medan 17 April 2008 Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
h.
i.


No Nama Lomba/ Kejuaraan Waktu
Pelaksanaan Tingkat Penyelenggara Keterangan
1) Menulis Cerita Pendek 18 Juni- 13 Desember 2007 Nasional Dirjen. Manajemen Pend. Dasar dan Menengah
2) Penulisan Cerita Rakyat 20 Agustus- 3 November 2006 Nasional Pusat Bahasa Jakarta
3) Penulisan Cerita Pendek 13 0kt 2004 Nasional Dirjen. Manajemen Pend. Dasar dan Menengah
4) Lomba Baca Puisi 28 Agustus-4 September 1995 Nasional Pan. Pekan Budaya, Pameran Buku dan Tekonologi Islam
5) Menulis Naskah Sandiwara Radio 11 September 2004 Nasional RRI Cab. Medan
6) Lomba Cipta Puisi 10 Agustus 2004 Lokal Dewan Kesenian Medan
7) Festival Teater Alternatif GKJ Awards 2003 13-20 Okt 2003 Nasional Gedung Kesenian Jakarta
8) Cipta Puisi Online II TELKOM 2004 8 Juli 2004 Provinsi TELKOM Medan
9) Menulis Pantun/Syair 25 Juli 2004 Nasional Mengenang 132 thn “Perang Sunggal”
10) Teater Sekolah 8 Okt 2002 Lokal Asosiasi Seni Teater Sumatera Utara
11) Baca Puisi 8 Mei 2004 Provinsi Piala Kantata Bangsa I
12) Baca Puisi Islami 28-30 Mei 1995 Lokal Renungan Muharram Seniman Medan
13) Baca Puisi 1996 Lokal Pekan Seni Anak Muda Medan
14) Baca Puisi 1 Juli 1996 Lokal Lembaga Kebudayaan Antar Bangsa dan Ikatan Mahasiswa Pemuda Pengarang Indonesia
15) Senam Kesegaran Jasmani dan Gerak Jalan 31 Maret 1995 lokal Dies Natalis Tri Dasawarsa IKIP Medan
16) Baca Puisi 13-28 Juli 1996 Lokal Milad Sanggar Remaja Islam II
17) Baca Puisi 18 Mei 1996 Lokal Renungan Muharram Seniman Medan
18)




Medan, 4 Februari 2010
Hormat Saya,

SASTRA DAN KESUSASTRAAN

 



MENYINGKAP PETA KESUSASTRAAN SUMATERA UTARA


Oleh : SUYADI


“Pada batasan, Bukit Barisan. Memandang aku ke bawah memandang; Tampaklah hutan rimba dan ngarai; Lagipun sawah, sungai jang permai; Serta gerangan, lihat pula. Langit yang hijau bertukar warna Oleh pucuk, daun kelapa; Itulah tanah, tanah airku Sumatera namanya, tumpah darahku.”             (“Tanah Air”, bait 1, Muhammad Yamin)
TOKOH Nasional Muhammad Yamin pada saat menulis puisi “Tanah Air “ di Bogor sekitar Juli 1920 mungkin tidak mengira, pulau Sumatera yang diagung-agungkannya melalui sajak ini, kini berbagi menjadi sepuluh propinsi. Betapa kagumnya ia terhadap “tanah air”-nya, tanah air yang terdiri atas pemandangan Bukit Barisan, hutan rimba, ngarai, sawah, sungai, dan pucuk daun kelapa. Sajak tersebut bahkan sempat menjadi inspirasi para tokoh nasional Indonesia dalam mempersiapkan dan mendirikan sebuah bangsa bernama Indonesia. Melalui Sumatera, mereka mengayuh bahtera menuju kemerdekaan. Dari tanah Sumatera ini pula lahirlah karya-karya sastra nasional yang mampu mendongkrak  semangat nasionalisme di tengah kekuasaan kolonial Belanda. Konsep-konsep kebudayaan Barat dan Timur juga dilahirkan dari tokoh-tokoh yang berada di Pulau Andalas ini yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana maupun Sanoesi Pane.  Tak ayal :” … Itulah tanah yang kusayangi,/Sumatera namanya, yang kujunjungi//” (bait 2), sehingga kita juga patut berteriak : “Wahai Andalas, pulau Sumatera/Harumkan nama, selatan utara!///” (bait 3). Begitulah. Diskursus mengenai peta kesusastraan di tanah air dekade belakangan kerap terjadi di kalangan pegiat sastra. Tak terkecuali di Pulau Sumatera. Sejumlah sastrawan di pulau Andalas ini secara gradual mempertemukan gagasan untuk memetakan kesusastraan Sumatera. Di antaranya melalui Temu dan Dialog Penyair se-Sumatera ataupun Temu Sastrawan se-Sumatera lalu. Gayung bersambut. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) masa kepemimpinan Ratna Sarumpaet membuat hal serupa. Kali ini dibingkai dalam tajuk Cakrawala Sastra Indonesia (CSI). Tentunya dengan niat sama, CSI juga menjadi alat mendokumentasi peta kesusastraan di Indonesia. Sesuai semangat zaman pula, perkembangan kesusastraan di Indonesia tentunya maju pesat. Hal terpenting dalam pemetaan kesusastraan ini, untuk memperlihatkan bahwa generasi kesusastraan di Indonesia tumbuh subur. Menyemai menjadi warga sastra dunia, dengan beragam karakteristiknya. Begitu juga di Sumatera Utara. CSI yang dipelopori DKJ menjadi satu momentum menampik terputusnya benang sejarah kesusastraan di Indonesia yang ada di daerah, termasuk Sumatera Utara. Namun sayangnya, apa yang dirintis DKJ itu tampaknya mengalami hambatan, sehingga gagal menerbitkan buku antologi cerpen sastrawan Sumatera Utara. Terlepas dari persoalan nonteknis, kegagalan Sumatera Utara dalam arena CSI DKJ itu sangat mengejutkan kalangan sastrawan di/dan asal  Sumatera Utara, bahkan Indonesia. Seolah-olah peta kesusastraan Sumatera Utara tertutup sudah. Padahal, kehadiran Sumatera Utara dalam khasanah sastra tanah air harusnya sudah terbukti. Ini pula yang mendasari penulis membeberkan masalah ini ke dalam tulisan ini. Bahwa, Sumatera Utara tetap eksis dan tetap jadi ladang subur dunia kepengarangan di bumi Nusantara.
Sumatera Utara : Geopolitik Kepengarangan
PROPINSI Sumatera Utara merupakan gabungan eks Keresidenan Sumatera Timur dan Tapanuli. Bahkan, eks Keresidenan Atjeh pernah pula masuk ke dalam propinsi ini sebelum akhirnya menjadi propinsi sendiri[1] (kini bernama Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sebelumnya Daerah Istimewa Aceh).  Sumatera Timur hingga pertengahan abad ke-19 didiami kelompok etnis Melayu, Batak Karo, dan Batak Simalungun. Ketiga etnis inilah yang kemudian disebut penduduk asli Sumatera Timur.             Wilayah Sumatera Timur membentang pada suatu kawasan seluas 31.515 kilometer persegi, terdiri atas daerah Kabupaten dan Kota, yakni, Langkat, Karo, Deliserdang, Simalungun, Asahan, :Labuhanbatu, Serdangbedagai (Kabupaten), Medan, Tebingtinggi, Binjai, Pematangsiantar, dan Tanjungbalai (Kota). Hingga kini wilayah ini berpenduduk heterogen dengan jumlah sekitar 8.370.928 jiwa. Meski didominasi etnis Jawa (44,66%)[2], namun tidak ada satu kebudayaan pun yang dominan di daerah ini, karena heterogenitasnya. Hal ini telah diteliti antropolog E.M. Bruner[3] yang menelaah etnis Batak di Medan dan Bandung.             Sedangkan eks Keresidenan Tapanuli terbentang di wilayah Pantai Barat dan sekitar Danau Toba bagian Selatan seluas 40.165 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 3.105.344 jiwa. Dalam khasanah sehari-hari, Tapanuli identik dengan Tanah Batak. Dengan demikian, Tapanuli adalah tempat menetapnya satu tnis tertentu yang saat ini dinamakan suku Batak, suku yang menempati empat besar di antara empat suku yang paling banyak menghuni Pulau Sumatera[4]. M. Hutauruk dalam bukunya “Sejarah Ringkas Tapanuli” mengungkapkan, orang Batak mempunyai semangat berpindah untuk menemukan tempat yang lebih baik dan nyaman untuk didiami. Sementara, Lance Castle[5] dalam penelitiannya membagi kelompok orang Batak  ini menjadi lima subkelompok berdasarkan tempat kediamannya. Sebaian besar orang Batak, yakni Batak Toba, mendiami wilayah Selatan dan Barat Daya Danau Toba, termasuk Pulau  Samosir.  Belanda kemudian menyebut wilayah ini sebagai Pusat Tanah Batak (Centraal Bataksland), yang kini menjadi Kabupaten Tapanuli Utara. Pihak lain menyebutnya sebagai Batak tulen[6].  Kelompok terakhir berada di Selatan Danau Toba, tepatnya di daerah Angkola, Mandailing, dan Padang Lawas, berdiam Batak Tapanuli Selatan yang mempunyai dua subkelompok etnis yakni Angkola dan Mandailing.  Dari pemetaan wilayah Tapanuli ini, maka kawasan itu meliputi Tapanuli Selatan, Mandailingnatal, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Nias, Dairi, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Nias Selatan, Samosir, Pakpak Bharat (Kabupaten), Padangsidempuan, dan Sibolga (Kota).             Dengan digabungkannya dua eks keresidenan itu menjadi Propinsi Sumatera Utara pada 1950-an, maka luas wilayah propinsi ini menjadi 71.680 persegi dengan jumlah penduduk 11.476.272 jiwa. Berdasarkan hal itu, peta kepengarangan (kesusasteraan) di Sumatera Utara sesuai tempat kelahirannya sembilan tahun belakangan ini[7] didominasi penulis yang berasal dari eks Keresidenan Sumatera Timur.  Dari sekitar 61 orang penulis yang tersebar di dalam 32 buku karya sastra yang terbit 1996-2005. Di antaranya, A. Rahim Qahhar, AS. Atmadi, A. Zaini Nasution, Bahar Adexinal Saputra, Danil Eneste, D. Rifai Harahap, Ezra Dalimunthe, Hidayat Banjar, Herman KS, Idris Siregar, Maulana Syamsuri, Mihar Harahap, Moratua Naibaho, M. Raudah Jambak, M. Yunus Rangkuti, NA. Hadian, Pangeran Amry, Rasinta Tarigan, Ridwan Siregar, Romulus ZI Siahaan, S. Satya Darma, Suyadi San, Syaiful Hadi JL, Teja Purnama,  Washa S. Nasution, Wirja Taufan, YS. Rat  (Medan), Harta Pinem (Karo), Adi Mujabir, Bertino Vulkan, Damiri Mahmud, D. Ilyas Rawi, Idris Pasaribu, Laswiyati Pisca, Shafwan Hadi Umry, Sumar (Deliserdang), Ristata Siradt (Tebingtinggi), Afrion, BY. Tand, Dt. A. Azmansjah, H.A. Dharsono, Sahril, Usman Al Hudawy (Asahan),  Antilan Purba, Jerni Martina Elita Napitupulu, Rosliani (Simalungun), Aishah Basar, Aldian Aripin, Herman T. Soebrana, Maruli Simbolon, Medi Idris Dasopang, Said Adlin (Labuhanbatu), A. Jalil Sidin (Binjai),  Sulaiman Sambas (Tanjungbalai), dan Zainal Arifin AKA (Langkat). Sedangkan pengarang yang berasal dan lahir di eks Keresidenan Tapanuli, di antaranya, Thompson HS (Tapanuli Utara), A. Anwari Lubis, Arie MP Tamba (Tobasamosir), M. Solly Lubis alias M. Solly Maarif (Tapanuli Tengah),  Agus Mulia, Hasan Al Banna (Padangsidempuan), Ahmad Parmonangan Nasution, Z. Pangaduan Lubis (Mandailingnatal), Anum Nona Asih, Murni Ariyanti Pakpahan (Subolga), Supri Harahap,  T. Mulya Lubis (Tapanuli Selatan). Peta kepengarangan di Sumatera Utara ini juga diramaikan penulis berasal dari luar Sumatera Utara, di antaranya, Gunawan Tampubolon, Ibnast, Rusli A. Malem, Surya Dewita, Zakir (Nanggroe Aceh Darussalam), Aly Yusran Datuk Mojoindo, Harun Al Rasyid, Lazuardi Anwar, Yulhasni, Zainuddin Tamir Koto alias Zatako (Sumatera Barat), Dwi Kridanto HS (Sumatera Selatan), Aminullah RA (Lampung), Sutajaya (Jawa Barat), dan S. Ratman Suras (Jawa Tengah).
Sumatera Utara : Geliat Kepengarangan
KALAU kita mengingat Sumatera, tentu terbayang nama-nama sastrawan tersohor di kepulauan ini. Sebut saja, Roestam Effendi, Marah Rusli, HAMKA, Sutan Takdir Alisjahbana, Amal Hamzah, Merari Siregar, Sanoesi Pane, Armijn Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan tentu saja Muhammad Yamin, A. Hasjmy, Iwan Simatupang, Sitor Situmorang, Nasjah Djamin, Mansur Samin, Mochtar Lubis, A.A.Navis, Hamsad Rangkuti, dan sederetan nama besar lainnya. Mereka telah menorehkan “tinta emas” dalam jagad kesusastraan nasional kita. Bahkan, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri, menjadi “bapak sastra” di negeri bernama Indonesia sesuai nafas zaman masing-masing. Sumatera Utara tentunya juga tidak terlepas sebagai penyumbang terbesar dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Setidaknya, nama M. Kasim (pelopor penulisan cerpen), Merari Siregar (penulis roman modern pertama di Indonesia), St. Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane (pendiri Pujangga Baru), Amir Hamzah (Raja Penyair Pujangga Baru), Chairil Anwar (Pelopor Angkatan ’45), dan Iwan Simatupang (pelopor pola penulisan novel mutakhir di Indonesia), seperti sudah menjadi “trade mark”-nya Propinsi Sumatera Utara dalam rumah sastra Indonesia. Nama Willem Iskander, Mozasa (Mohammad Zain Saidi), Joesoef Soej’ib sampai generasi Bokor Hutasuhut, juga tercatat dalam perkembangan sastra Indonesia modern di daerah ini. Bahkan, H.B. Jassin, Aoh K. Hadimadja, Rivai Ali, Hamka, A. Hasjmy, Or Mandak, Samadi, dan beberapa orang lain, sempat pula hadir dan berekspresi di propinsi yang heterogen ini. Hingga kini para sastrawan “senior” Sumatera Utara juga masih eksis menyemai di taman sari kesusasteran tanah air.  Mereka yang sejak kurun waktu 1960-an menulis hingga sekarang (rata-rata berusia 50 tahun ke atas hingga akhir hayatnya), misalnya, Herman KS, NA. Hadian, A. Rahim Qahhar, AS. Atmadi, Damiri Mahmud, Shafwan Hadi Umry, Usman Al Hudawy, BY. Tand  (alm), Dt. A. Azmansjah, Aldian Aripin, Sulaiman Sambas, M. Solly Lubis, Z. Pangaduan Lubis, Lazuardi Anwar, Maulana Syamsuri, Zatako, dan Rusli A. Malem. Sajak-sajak, cerita pendek  maupun ulasan dan novel mereka masih tampil dalam sejumlah antologi   serta media cetak di Medan, Jakarta, dan luar negeri. Bagaimana pula dengan para penulis mudanya? Generasi baru sastrawan Sumatera Utara pada mulanya juga menulis karya-karya mereka di media cetak lokal maupun nasional. Anak muda-anak muda ini juga rajin mengikuti berbagai peristiwa sastra bersama para pendahulunya, selain menggelar diskusi-diskusi kecil untuk mengasah bakat kepengarangannya. Geliat kepengarangaan sastrawan muda Sumatera Utara dalam kurun waktu 1996-2005 dapat terlihat dalam antologi puisi “BUMI” (Studio Sastra Indonesia, 1996), “JEJAK” (Dewan Kesenian Sumatera Utara, 1998), “INDONESIA BERBISIK” (Dewan Kesenian Sumatera Utara, 1999), “MUARA TIGA” (Dialog Utara IX, 2001), dan “AMUK GELOMBANG” (Star Indonesia Production, 2005) serta “SANGKALAKIRI” (Dialog Utara X, 2003).  Antologi puisi “BUMI” yang memuat sajak-sajak 18 penyair Sumatera Utara[8] merupakan tonggak awal pemunculan generasi baru sastra di Sumatera Utara. Antologi ini dilahirkan dari kegelisahan kreatif para penulis muda yang merasa terpinggirkan dari hegemoni pengarang tua. Pengarang tua (sebut saja mereka yang mengarang sejak 1960-an) yang merasa tetap unggul dan mendominasi media Jakarta sekelas Horison, seolah-olah tak memberi ruang dan waktu dalam segala perhelatan kepengarangan di Sumatera Utara. Hal inilah yang menimbulkan keprihatinan para sastrawan muda[9], sehingga pada 7 Agustus 1994 mereka membentuk sebuah forum diskusi mingguan secara marjinal (emperan dan trotoar) di komplek Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU). Forum ini pun dinamakan Forum Keprihatinan Sastra (FKS). FKS selanjutnya mengadakan ‘gerilya’ bersastra dari rumah ke rumah, kantor, kedai buku, hingga kampus. Selanjutnya forum ini mengubah diri menjadi Forum Kepedulian Sastra serta tak lama kemudian berubah lagi menjadi Forum Kreasi Sastra. ‘Gerilya’ yang dilakukan hingga mengunjungi rumah-rumah dan melibatkan sastrawan senior ke dalam setiap forum diskusi ini memang sangat ampuh dan berpengaruh positif. Gerakan ini menghasilkan buku antologi puisi “BUMI”. Nama “bumi” sengaja diberikan, karena di dalam buku itulah terkandung makna bumi atau peta kepenyairan sebagai ‘rumah’ atau tempat berpijak para generasi baru sastra di Sumatera Utara. “BUMI”  ini pulalah yang “mengilhami”  penerbitan buku selanjutnya, yakni antologi puisi “DALAM KECAMUK HUJAN” (Kedai Sastra Kecil/KSK, 1997), kumpulan puisi tunggal Romulus Siahaan  “CATATAN PERJALANAN DALAM BEBERAPA WAKTU” (Tong Sampah, 1996), S.  Ratman Suras “GUGUR GUNUNG” (KSK, 1997), “TARIAN MUSIM” (KSK, 1997), serta kumpulan cerita pendek Idris Siregar dan S. Ratman Suras “PERJALANAN YANG BELUM TERUNGKAP” (KSK, 1999). Pada antologi puisi “JEJAK” dan “MUARA TIGA”, geliat kepengarangan sastrawan muda Sumatera Utara juga sangat terasa.  “JEJAK” memuat puisi-puisi dari berbagai angkatan, mulai generasi 1950-an sampai 1990-an[10].  Ini merupakan monumental pertama dalam sejarah sastra di Sumatera Utara. Sesuai namanya, antologi ini merupakan “jejak” dalam peta kepenyairan di Sumatera Utara. Jejak ini diikuti antologi puisi berikutnya, ‘INDONESIA BERBISIK” (Dewan Kesenian Sumatera Utara, 1999)[11], juga berisikan sajak-sajak penyair dari berbagai angkatan. Sastrawan Sumatera Utara juga terlibat di dalam kumpulan puisi dan cerita pendek ‘MUARA TIGA”[12] yang diterbitkan Panitia Dialog Utara IX Medan. Ini merupakan karya sastra pertama dalam sembilan tahun belakangan yang memuat karya-karya sastrawan muda Sumatera Utara bersama sastrawan negara jiran, Malaysia. ‘MUARA TIGA” merupakan lanjutan dari antologi “MUARA” (1984) dan “MUARA 2” (1989). Sejak forum sastra Dialog Utara diadakan para sastrawan Sumatera Utara dan Malaysia bagian Utara, disepakati untuk melahirkan buku antologi sastra. Buku yang terbit di Malaysia diberi nama “TITIAN LAUT”  dan yang terbit di Indonesia diberi nama “MUARA”. Terakhir, Dialog Utara melahirkan buku antologi sastra “SANGKALAKIRI”[13] yang diterbitkan di Thailand bagian Selatan (2003). Gelombang penerbitan buku para sastrawan muda Sumatera Utara ini berlanjut pada forum Arisan Sastra (Arsas) digagasi YS. Rat, Suyadi San, dan Antilan Purba pada tahun 2001. Hingga kini forum ini melahirkan empat buku antologi puisi, kesemuanya diberi judul “TENGOK”. Nama tersebut sebagai penanda bahwa mereka masih terus eksis di tengah membanjirnya karya-karya sastra dari Pulau Jawa.  Buku pertama, “TENGOK”,  memuat sajak-sajak Idris Pasaribu, Suyadi San, M. Raudah Jambak. Buku kedua, “TENGOK 2” YS. Rat, S. Ratman Suras, Teja Purnama, “TENGOK 3”  Antilan Purba, Idris Siregar, Aishah Basar, dan “TENGOK 4” Porman Wilson, Sahril, M. Yunus Rangkuti. Perkembangan terkini geliat sastrawan muda Sumatera Utara di tengah arus teknologi saat ini mulai menjamah media elektronik, seperti internet dan radio. Berbagai situs sastra kerap mewarnai perhelatan dunia maya ini, di antaranya melalui cyber sastra dan “On/Off”. Di cyber sastra ini, penulis muda yang lahir di Tapanuli dan mengambil pendidikan di Australia, Saut Situmorang, sangat merajainya. Penulis muda lainnya, Eddy Siswanto, menyertakan beberapa sajaknya di dalam antologi puisi yang dikirim via internet (para pemuisi se-Indonesia ini pada awalnya berkoresponden melalui internet) berjudul “DIAN SASTRO SANG PRESIDEN”.  
Sumatera Utara : Ideologi Kepengarangan
SASTRAWAN Sumatera Utara pada ghalib-nya terus berpacu mengarungi samudera globalisasi dan teknologi. Mereka yang datang dari berbagai daerah, menyatu menjadi komunitas besar sebagai warga sastra Nusantara, menyemai di antara sejumlah fatamorgana dan dunia maya. Sastrawan Sumatera Utara sejak era Balai Pustaka sampai sekarang memiliki bahasa puisi yang beragam, sesuai dengan latar belakang ideologi (pandangan hidup) kepenyairan masing-masing. Ideologi, menurut Kamus Sosiologi Antropologi, M. Dahlan Yacub Al-Barry (2001), di antaranya berarti cara berpikir atau pandangan hidup seseorang atau suatu golongan. Dalam kaitan ini, ideologi kepenyairan berarti kumpulan konsep bersistem dalam kepenyairan yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Kalau generasi Amir Hamzah – yang penuh romantisisme dan religius-impresif -- dan Chairil Anwar – dengan puisi-puisi ekspresionistisnya -- mampu menciptakan ideologi kebaharuan bahasa puisi di tengah kungkungan rezim kolonial Belanda dan Jepang, generasi berikutnya lebih berorientasi kepada teks-teks kritik sosial dan balada serta tidak ketinggalan bernuansakan semangat religiositas dan epik-romantik.  Dalam perkembangan terbarunya pula, sebagian penyair tidak melupakan identitas kultur-nya. Untuk melihat ideologi kepengarangan di Sumatera Utara, penulis akan mengkajinya melalui pendekatan sosiologi. Sosiologi  adalah suatu telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat serta tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah  perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain, kita mendapat gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme kemasyarakatannya, serta proses pembudayaannya. Pendekatan ini juga mengacu kepada teori pendekatan sastra yang dibawakan Levy Strauss (antropologi-strukturalisme), Roland Barthes (semiotik), Sigmund Freud (psikoanalisa), Wellek dan Warren serta Ian Watt (sosiologi sastra). Dari pendekatan sosiologi ini kita akan melihat sejauh mana sastrawan Sumatera Utara memperlihatkan ideologi kepengarangannya di tengah tantangan arus teknologi dewasa ini. Sajak-sajak bernuansa kehidupan sosial dapat terlihat dalam sajak Hidayat Banjar, merekam situasi reformasi pada era 1998 yang seperti mengulang peristiwa era 1966 berikut : …” Di jalan-jalan raya orang bergerombol api berkobar, mobil dibakar kaca-kaca toko pecah kesumat pecah bagai ketuban keluar dari rahim
Di jalan-jalan raya orang bergerombol bagai zombi yang bangkit dari kegelapan lagu purba menghiasi angkasa yang pernah berkumandang pada masa moyang dulu”… (Di Jalan-jalan Raya Orang Bergerombol, bait 3 dan 4)
Moratua Naibaho di penghujung era rezim Soeharto malah ”menasihati” kita semua agar tidak menulis puisi yang “pedas-pedas” :
“Kata mama buat puisi jangan yang pedas-pedas nanti yang dengar sakit perutnya
Jangan singgung-singgung tentang politik sebab politik miliknya orang-orang pintar dan orang-orang pintar biasanya buncit-buncit sangat sensitif pada yang pedas-pedas bisa mules dan mencret
Jangan singgung-singgung tentang surat sakti sebab yang punya surat sakti terlalu sakti nanti kamu bisa disulap jadi kambing atau lembu atau dijebloskan dalam terali besi”… (Kata Mama, bait 1, 2, dan 3)
Barangkali, itu pula yang membuat S. Ratman Suras khawatir terhadap nasib anak-anak bangsa menyaksikan segala macam pertikaian dan kekerasan yang melanda hingga ke dalam rumah tangga  berikut :
“siapa sudi menangis dalam tragedi ini? di mana rumah tak lagi memberi kenyamanan orang tua selalu berbeda arah anak-anak tak bisa lagi bercermin televisi di ruang tamu hanya bisa mengalirkan darah diselingi lagu-lagu tangisan menyayat tentang sebuah keluarga yang terkoyak-koyak”… (Siapa Sudi Menangis dalam Tragedi Ini, bait 1)
Dari semua peristiwa itu, wajarlah Damiri Mahmud  berdoa memohon “amnesti” (ampunan) karena tidak ada formula tepat untuk mengatasi segala macam krisis :
DOA RAYAP
Allah beri maaflah doa-doa kami minta dunia jadi rumah sendiri
berilah kami maaf bagi formula dan teori sang maharesi meraup dunia dengan kedok demokrasi mengulum antariksa bersama rayap sains dan teknologi
turunkanlah amnesti bagi kami begitu sehat dan hidup darah dan dagingnya tetapi mati hati Amin
Sajak-sajak balada selama tujuh tahun belakangan juga mendominasi ideologi kepenyairan di Sumatera Utara.  Di antaranya terlihat pada sajaknya D. Ilyas Rawi, Dt. A. Azmansjah, Ezra Dalimunthe, Laswiyati Pisca, Ridwan Siregar, Romulus ZI Siahaan, Shafwan Hadi Umry, S. Ratman Suras, YS. Rat, Arie MP Tamba, S. Satya Dharma, T. Mulya Lubis, M. Solly Lubis, NA. Hadian, Lazuardi Anwar, Herman KS, Rusli A. Malem, Idris Pasaribu, Harta Pinem, Murni Ariyanti Pakpahan, Idris Siregar, Suyadi San, Teja Purnama, BY. Tand, Hidayat Banjar, M. Yunus Rangkuti, Surya Dewita, Adi Mujabir, Thompson HS, dan Medi Idris Dasopang. Lihatlah bagaimana Dt. A. Azmansjah mengisahkan pencarian nasibnya di tengah kota: :”kelap kelip lampu kota mengulur hati mencari/bintang bintang cerah dedaunan melambai sayup/terpantul pada jalanan kering tak pernah sepi/di bawah gundukan kenang yang semakin terkatup//” (Yang Kucari, bait 1). Begitu pula Harta Pinem yang mengalami badai dalam percintaannya : “Laut yang bercinta dengan gelombang/saban hari di sana menunggu  camar/tapi hanya batu karang setia menunggunyaa diam/meski berkali-kali dipukul gelombang/berzaman-zaman ia setia diterlantarkan badai/setiap camar berniat terbang ke sana/…///” (Laut yang Bercinta). YS. Rat lain lagi, ia justru mencurigai ada pihak yang ingin membelokkan sejarah di negerinya, sehingga ia bertanya melalui sajak berjudul “Siapa Menyusun Sejarah Ini” :
“Siapa Menyodorkan seonggok makna ke mulut, jadi bungkam Menghidangkan semangkuk wangian ke hidung, jadi sesak Menaburkan segumpal warna ke mata, jadi buta Menyematkan seuntai sajak ke telinga, jadi pekak Meneteskan setumpuk musim ke kulit, jadi kering (bait 1)
Di tengah mengglobalnya jagad perpuisian modern di Indonesia – apalagi dengan tumbuh suburnya media internet yang menampung sejumlah puisi para penyair, tidak menjadi satu alasan bagi penyair Sumatera Utara untuk lepas dari akar tradisi. Setidaknya, masih banyak penyair di daerah ini yang setia terhadap nuansa etnik dan identitas kulturnya.  Lihatlah bagaimana penyair migran S. Ratman Suras  “Suara Hati si Roro Jonggrang” : “seandainya aku menerima pinangan itu/aku pasti seperti kalian/reguk embun cinta, lenyap bila matahari meninggi/aku seperti mendur pronocitro/merajut cinta dalam genangan darah//” (bait 1). Sulaiman Sambas melalui sajak balada berjudul “Nandong Dinandong Ale Baya O Intan Payong” malah banyak mereduksi ucapan mantra : “//(o, mayong segala mambang/mambang angin puting beliung/merentang panjang tali arus/celupkan pelangi di pusat tasik)//” (bait  8)  Begitu juga Thompson HS yang tak lupa pada “Tano Pasogit”-nya : “masih kuingat sebuah kampung/di pinggir danau/tanahnya melahirkan ibu-bapa dan ompung/tapi hatiku sudah ditanam di sana/waktu horja, pesta hula-hula/bersama cerita tambo//” (bait 1).  Dan, tentu saja sajak saya yang terkena pengaruh Melayu Deli berikut : “pak ketipak ketipung-/anak-anak bermain di teras tepi jalan/kehilangan tongkat gawang peninggalan/pak ketipak ketipung-/jangan disentuh topi-topi tak berbusa/agar kau tak bisa berlena-lena//…//pak tipak tipung/kepak kepung pak titi/titipung kepak pak ke :/--begitulah aku bernyanyi-nyanyi/sendiri/di tengah troubador kotaku///” (Dendang Pakpung untuk Medan Bestari). Di samping itu, kegelisahan kreatif para penyair Sumatera Utara juga tidak lepas dari semangat religiositasnya. Para penyair menyadari, sesungguhnya apa yang dilakukan manusia tidak terlepas dari ‘dukungan’ Sang Pencipta, sehingga patut disyukuri. Apalagi, jika ada yang merasa telah menampung banyak dosa, sehingga harus memohon ampunan dari Tuhan-nya. Simaklah bagaimana Shafwan Hadi Umry yang tak pernah berhenti berdoa dan mengakui kelemahannya di hadapan Sang Khaliq sebagaimana tergambar dalam sajaknya :
DOA
sehabis kisah, aku tak tahu di mana tamatnya sehabis hujan, aku tak tahu di mana tumpahnya sehabis ombak, aku tak tahu di mana hempasnya sehabis jalan, aku tak tahu di mana batasnya sehabis ayat, aku tak tahu di mana khatamnya sehabis kisah sehabis hujan sehabis ombak sehabis jalan sehabis ayat sehabis tamat doa sampai di batas makrifat
Teranyar ditegaskan penyair NA Hadian. “Sudah kugembok suaramu”. Begitulah ungkapan batin penyair NA Hadian, dalam kumpulan sajak terbarunya Laut Mutiara (2005). Ungkapan yang sangat sederhana. Jujur dan tidak mengada-ada. Barangkali ucapan itu sangat tepat tatkala bangsa kita memasuki 60 tahun kemerdekaan. Sudah kugembok suaramu. Ya, betapa miriskah nasib bangsa ini menghadapi segala fenomena kehidupan? Keprihatinan demi keprihatinan, itulah yang kita hadapi memasuki usia 60 tahun kemerdekaan bumi Nusantara ini. Enam puluh tahun, harusnya kita makin matang menghadapi berbagai persoalan. Tidak gagap atau kagok mencari jalan keluar setiap permasalahan. Apalagi sudah ratusan tahun diuji penindasan. Rasanya, begitu naif jika kita terus merasa kalut dan sulit lepas dari lubang jarum keniscayaan. Enam puluh tahun, ya, enam puluh tahun. Enam puluh tahun itu kita dicekoki janji. Jargon dan mutiara kata untuk bangkit dari penindasan. Enam puluh tahun itu kita dibuai mimpi berkepanjangan. Revolusi dan pembangunan. Reformasi dan perubahan. Semuanya sangat menjanjikan. Manis di bibir, sangat indah di perkataan. Namun, begitu ironi. Kita harus antre mendapatkan BBM. Padahal, mendapatkannya pakai duit. Duitnya sulit didapat. Didapat dengan susah payah. Banting tulang. Peras keringat, pikiran, dan tenaga. Penguasa dengan enteng meminta kita agar berhemat. Berhemat. Kencangkan ikat pinggang. Puasa Senin-Kamis.Wah! Bukankah sejak dahulu kita berhemat? Mengencangkan ikat pinggang? Ditambah lagi yang setiap saat puasa, tidak hanya Senin-Kamis. Saking hematnya, saking menyempitnya pinggang, kita sampai cakar-cakaran. Berebut pekerjaan. Kehilangan pekerjaan. Sikut kanan, sikut kiri. Sikat kanan, sikat kiri. Jilat kanan, jilat kiri. Ujung-ujungnya, korupsi. Monopoli, oligopoli, manipulasi. Dan sebagainya. Yang penting happy. Tak peduli kanan dan kiri. Masing-masing cari selamat. Selamatkan diri masing-masing alias SDM. Wah! Untuk itu, penyair NA Hadian bilang :
Sudah kugembok suaramu jangan ucapkan lagi kata itu kita saling berbohong aku bohong kau pun bohong (Sudah Kugembok Suaramu, bait 1)
Bohong! Itulah yang sebenarnya. Aku bohong kau pun bohong.  Apakah kita saling berbohong? Entahlah. Yang jelas, pada saat kita kehilangan tongkat, pada saat kita kesulitan sandang dan pangan, pada saat kita antre BBM, penguasa hanya mampu bilang kesulitan membayar minyak di luar negeri, apalagi utang piutang. Padahal sudah 60 tahun penguasa berkuasa. Diberi  kesempatan mengolah hasil bumi, rempah-rempah; untuk keselamatan rakyat, untuk kesejahteraan rakyat. Lihat saja, saat kita sudah sering berhemat, segala macam merek dan jenis kendaraan setiap hari mengalir deras ke bumi Pertiwi. Setiap saat berseliweran di depan mata kita. Booming. Dari mana datangnya? Dari luar negeri, tentu. Koq bisa? Siapa yang beli? Yang punya duit, tentu. Lho koq! Ya bisa, karena memang tidak ada ketentuannya. Tidak ada aturannya. Nah!
Mau apa lagi kita sekarang bikin janji ke janji janjimu bermata pisau bicaramu tembaga berparuh ular (Sudah Kugembok Suaramu, bait 2)
Ideologi kepengarangan Sumatera Utara ini juga terlihat dalam sejumlah cerita pendek yang terdapat di dalam antologi sastra “MUARA TIGA” (Indonesia-Malaysia). Buku kumpulan cerita pendek di Sumatera Utara memang kalah jauh berkembang dibanding puisi. Selain “MUARA TIGA”, ada juga kumpulan cerita pendek Danil Eneste “PASAR MAYAT” (2000) dan “MONOLOG HITAM PUTIH” (2000) serta Idris Siregar dan S. Ratman Suras dalam “PERJALANAN YANG BELUM TERUNGKAP‘.  Lima belas orang cerpenis penyumbang karyanya dalam “MUARA TIGA’ tersebut, yakni, Abdul Jalil Sidin (alm), Baharuddin Saputra, Danil Eneste, Darwis Rifai Harahap, Harta Pinem, Hidayat Banjar, Maulana Syamsuri, M. Raudah Jambak, Ristata Siradt, Sulaiman Sambas, Supri Harahap, Suyadi San, Syaiful Hadi JL, Yulhasni, dan Usman Al Hudawy (alfabetis). Konflik kultural dan struktural hampir bersatu dalam setiap cerpen mereka. Misalnya terlihat dalam cerpen “Pistol”-nya Baharuddin Saputra, “Kere’ Hidayat Banjar, “Tanda ‘X’ di Kampung Kami” Raudah Jambak, “Marsekal Pertama di Bumi Indonesia” Ristata Siradt, “Menghalau ke Padang-padang Hijau” Sulaiman Sambas. Atau, cerpennya Syaiful Hadi JL “Rumah Seribu Lubang”. “Rumah Seribu Lubang” senafas dengan “Tanda ‘X’ di Kampung Kami”, seputar konflik berkepanjangan di Tanah Rencong, Aceh. Kecemasan dan ketakutan warga serta pembunuhan terhadap warga biasa, menjadi pemikiran dua penulis cerita pendek tersebut. Sedangkan kekuasaan penguasa terhadap rakyat jelata tergambar jelas dalam “Kere” dan “Marsekal Pertama di Bumi Indonesia”. Konflik pengarang terhadap batinnya dalam menghadapi realita kehidupan, terekam dalam “Pasar Mayat“ Danil Eneste, “Ini Medan Bung” Darwis Rifai, “Kucing” Suyadi, dan “Lelaki Pencari Tuhan”-nya Yulhasni. Sementara persoalan rumah tangga terjadi dalam “Maraknya Kembali Api Diri” Jalil Sidin, “Rindu yang Menekan” Harta Pinem, “Gerbong” Maulana Syamsuri, “Suasana Ibadah” Supri Harahap, dan “Gerhana” Usman Al Hudawy. Pemikiran-pemikiran yang muncul dalam nafas kepengarangan sastrawan Sumatera Utara itu menjadi ideologi tersendiri guna membangun komunikasi personal dengan pembacanya. Ia tidak saja memberi nafas kehidupan bagi pembaca, sekaligus menohok bahwa mereka masih ada dan menyemai. Demikianlah. Amien. ***
Medan, 2003-2005
Penulis adalah pegiat sastra dan teater serta staf teknis pada Balai Bahasa Medan

Sanggar Rumput Hijau dan Raudah Jambak

 



Konser Pulang Kampung Sanggar Rumput Hijau

Oleh: Tanita Liasna. 

SETELAH beberapa kali mengadakan konser, sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai kembali menghipnotis para penikmatnya lewat konser bertajuk “Tetap Berlari”. Berbeda dengan konser-konser sebelumnya, konser ini menampilkan 13 puisi dengan kehadiran para personel dari seluruh generasi/angkatan sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai yang telah berdiri sejak 2008.

Penampilan pertama dibawakan oleh para personel sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai angkatan 2011 dengan membawakan karya Saut Sitompul berjudul Puisi. Selanjutnya, mereka membawakan puisi berjudul Kepada Tanah Air, buah pikir Budiman S Hartoyo. Puisi Kepada Tanah Air merupakan puisi yang telah berhasil memukau para juri pada perlombaan musikalisasi puisi tingkat nasional pada 2011 di Solo.

Penampilan selanjutnya diisi oleh angkatan 2010 yang membawakan dua puisi karya penyair papan atas Indonesia, yaitu Cintaku Jauh di Pulau goresan pena Chairil Anwar, dan Sepisaupi karya Sutardji Choulzum Bachri. Sepisaupi juga adalah puisi yang membawa sanggar Rumput Hijau pada puncak kemenangan se-Indonesia di Jakarta pada 2013.

Lalu, berlanjut dengan puisi karya dua sastrawan Sumut yaitu Torsa Ni Namora Pande Bosi buah cipta M Raudah Jambak yang dibawakan pada lomba tingkat Sumatera di Padang, dan Hotel Siantar karya Damiri Mahmud yang dipersembahkan oleh angkatan 2012. Dan penyuguhan puisi selanjutkan dibawakan oleh angkatan baru. Kali ini dengan salah satu puisi andalan mereka Akulah Medan buah pena Teja Purnama, dan puisi Pong Ka Ti Pong-Pong karya Sulaiman Sambas.

Dan acara kembali dilanjutkan dengan penampilan angkatan 2011 yang membawakan puisi Asap Pabrik oleh Sutardji Chalzoum Bachri, Mendrofa ciptaan Yulhasni, dan puisi Di Titi Gantung Kuasah Rindu karya A Rahim Qahar.

Akhirnya, acara ditutup dengan penampilan sanggar Rumput Hijau generasi masa kini dengan puisi Padamu Jua buah karya Amir Hamzah. Salah satu personel angkatan baru inilah yang berkesempatan mengecap pendidikan selama setahun di Amerika.

Tetap berlari

Konser yang digelar pada awal Agustus ini diadakan di Taman Budaya Sumatera Utara, dihadiri oleh para keluarga, rekan, serta para sastrawan dan pecinta puisi Kota Medan. Acara ini secara artistik diasuh oleh Oka Sulaiman. Dengan pengarah teknis Ade Dharma, nonteknis Saripuddin Lubis MPd, dan pimpinan panggung oleh Hasan Al Banna. Pimpinan produksi oleh Novianti MPd serta penanggung jawab Dra Chadijah Harahap MM.

Konser ini di-set dengan begitu memukau. Desain panggung mampu membuat penulis merasakan betapa dekatnya seluruh personel Rumput Hijau dari generasi ke generasi. Desain panggung yang memberikan ruang bagi para personel untuk lebih dekat menikmati penampilan rekan sesanggar.

Konser ini menjadi sebuah konser pulang kampung para personel Rumput Hijau. Menjadi sebuah konser silaturahmi bagi para personel sanggar Rumput Hijau yang kini telah menamatkan sekolah dan melanjut ke jenjang yang lebih tinggi di berbagai kampus dan instansi pemerintahan di Indonesia. Juga merupakan wadah para generasi sanggar Rumput Hijau untuk bertegur sapa dan berbagi pengalaman. Selain itu, konser ini juga dihadiahkan untuk salah satu personel angkatan baru yaitu Cut Mutia Fahira  yang berhasil menjadi salah satu dari 85 siswa Indonesia yang berkesempatan belajar selama setahun di Amerika.

Konser ini mengingatkan sekaligus mengenang seluruh hasil kerja keras dan semangat belajar para personel sanggar Rumput Hijau dari generasi ke generasi yang telah membuahkan segudang prestasi, baik di tingkat kota, provinsi, Sumatera, hingga nasional. Sejak 2010 hingga 2013, sanggar musikalisasi Rumput Hijau telah mengharumkan nama baik Sumut dengan prestasi yang tiada henti mereka raih pada ajang perlombaan tingkat Sumatera. Pada 2011 dan 2013 sanggar musikalisasi puisi Rumput Hijau berhasil menjadi juara nasional. Selain itu, sanggar musikalisasi puisi Rumput Hijau telah mengeluarkan dua buah album yaitu Puisi Cinta untuk Anakku, dan Melainkan.

Konser inilah yang  mewakili semangat dan kerja keras sanggar musikalisasi puisi Rumput Hijau selama ini yang tak pernah berhenti untuk terus belajar dan tetap mengejar mimpi dan cita-cita yang terpancang setinggi-tingginya dan seupaya mungkin diraih. Para personel adalah tunas-tunas bangsa yang tak pernah lelah dan tak pernah puas dalam belajar dan meraih prestasi. Para personel sanggar musikalisasi puisi Rumput Hijau adalah salah satu bukti nyata kecintaan anak bangsa terhadap karya sastra Indonesia. Serta pembuktian bahwa kerja keras dan semangat untuk terus berlatih dan menciptakan sebuah karya akan membuah hasil yang luar biasa. Sebab sesungguhnya, musikalisasi puisi bukanlah sekadar ajang menampilkan puisi ketika masa pendidikan dan ketika perlombaan menanti. Namun suatu bentuk kecintaan pada sastra dan seni yang takkan pupus meski zaman berganti rupa. Semangat terus seluruh generasi sanggar Rumput Hijau!

* Rumah Cerita, 110814

* Penulis, alumnus STKIP Budidaya Binjai