Selasa, 03 Oktober 2023

Panca Budi Beri Apresiasi pada Guru Penuh Prestasi

 



Panca Budi Beri Apresiasi pada Guru

Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut, Rosmawati Nadea  menuturkan, guru sebagai pendidik anak bangsa memiliki peran yang penting dalam menghantarkan mereka menuju manusia yang cerdas dan bermartabat dalam hidupnya. Untuk itu, peran guru sangat penting dalam perjalanan bangsa ini ke depan guna membentuk generasi mudanya.

"Kobarkan semangat teladan kepada anak didik kita, sehingga menjadi generasi penerus sesuai dengan cita-cita bangsa," ucap Rosmawati ketika bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan Hari Guru Nasional ke-72, di Lapangan Bola, Kompleks Panca Budi Jalan Gatot Subroto Km 4,5 Medan, Sabtu (25/11).

Upacara tersebut, diikuti oleh seluruh siswa Perguruan Panca Budi mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK BM dan SMK TR serta guru, pegawai dan pimpinan di jajaran Perguruan Panca Budi. Turut hadir, Koordinator Perguruan Panca Budi, Abdullah Syafii. Ditambahkan, guru sebagai sosok utama dalam mendidik harus menjadi teladan. Kemudian, harus juga mampu mencetak generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia.

Sementara Abdullah Syafii mengatakan,  peringatan Hari Guru ini setiap tahunnya dilakukan. “Melalui momentum peringatan Hari Guru kali ini mari bersama-sama meningkatkan kualitas guru agar pendidikan di Indonesia semakin maju. Sehingga, peran guru semakin dihargai dalam bidangnya dan mampu mencerdaskan anak bangsa secara keseluruhan,” harapnya.

Sebagai lembaga pendidikan katanya, sudah pasti kita mengedepankan program pemerintah, yang utamanya dalam pembangunan atau pembentukan karakter anak didik. Begitu juga dengan tenaga pendidik atau guru. Diutarakannya, tahun depan akan ada program baru dalam memberikan apresiasi lebih kepada guru yang berprestasi. Program tersebut berupa pemberian reward dengan memberangkatkan umrah.

Usai upacara  diberikan apresiasi dan penghargaan kepada kepada guru atas loyalitas kepada Perguruan Panca Budi yaitu Mulyadi (TK), Neni Kurnia, S.Pd (SD), Olivetty, S.Pd (SMP), Abadi, SPd (SMA), Drs. Darwin Nasution (SMK TR), Susilawati Saragih, S.Pd (SMK BM), Ummi Rahmi, S.Pd (SMK BM).

Penghargaan juga diberikan kepada guru berprestasi yang telah membawa nama harum Perguruan Panca Budi di berbagai lomba tingkat kota, provinsi dan nasional yaitu,  Susiani SPd, Fitriani SPd (TK), Syarifah Hanum SPd,  Kriswahyuni, SPdI, Efridayanti SKom, Aisyatun Naimah, SS SPdI (PAUD), Nur Hilmi Daulay SS, Dian Astuti Tri Kartika SPd, Ika Astuty MPd, Nur Mety, SPd (SD).

 Tina Aprida Marpaung SPd, Syahbudin Nasution SPdI, M Akhyar Lubis SSi MSi, Meilina Khairani SPd, Nur Hasanah SPdI,  Lili Siagian SPd, Adlin Khairi Sitepu SPd (SMP), Andini Fitri Lubis SSn, Abdi Fauzi SKom, M Raudah Jambak SPd (SMK) dan Taufik Ilyas, S.Kom (inspektorat). 

Tina Aprida Marpaung terpilih mengikuti Temu Sastra Indonesia 2011 yang Digelar di Ternate

 


Tina Aprida Marpaung terpilih mengikuti Temu Sastra Indonesia 2011 yang Digelar di Ternate

Author : Administrator | Jum'at, 14 Oktober 2011 13:27 WIB | - Sastra
 

Temu Sastrawan Indonesia IV Tahun 2011 akan digelar di Ternate, tanggal 25 – 29 Oktober 2011.  Tidak kurang dari 200 sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia akan bertemu untuk bermusyawarah, mengikuti seminar nasional, pesta sastra dan peluncuruan beberapa karya sastrawan. 

TSI akan diiukti oleh para sastrawan beken Indonesia serta beberapa sastrawan yang lolos seleksi atas karya yang sudah dikirim ke Dewan Kurator Sastra Indonesia.  Sidang Dewan Kurator Temu Sastra IV yang digelar selama dua hari di Jakarta (10-11/9) telah selesai menentukan, memilih dan memastikan karya-karya yang masuk ke dalam bunga rampai esei, cerpen dan puisi yang terpilih dalam event Temu Sastra Indonesia IV yang akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011 mendatang.

"Panitia akan melayangkan undangan resmi kepada semua peserta, baik peserta yang terpilih maupun karya yang lolos seleksi dewan kurator mulai Senin (12/9)," kata Ketua Pelaksana Temu Sastra Indonesia IV, Sofyan Daud di Jakarta, Minggu.

Walikota Ternate Burhan Abdurrahman dalam keterangan persnya mengatakan, pemerintah daerah Maluku Utara mendukung sepenuhnya pelaksanaan Temu Sastra Indonesia IV.

"Tentunya pemerintah daerah mendukung dilaksanakannya Temu Sastra Indonesia IV karena sangat berguna dan menaikkan serta membudayakan nilai-nilai seni," kata Burhan.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Sultan Ternate Mudaffar Sjah, masyarakat Ternate pasti akan mendukung Temu Sastra Indonesia IV tersebut.

Untuk menentukan karya-karya yang akan ditampilkan dalam acara Temu Sastra Indonesia IV dilakukan seleksi yang ketat.

"Para penyair dan karyanya, misalnya puisi, banyak nama-nama baru yang menjanjikan bagi perkembangan puisi Indonesia. Karya penyairpun variatif dan memperlihatkan kekuatan dalam puisi yang mereka kirimkan," kata salah seorang kurator puisi Joko Pinurbo.

Sementara kurator bidang cerpen, Linda Christanty mengatakan, cerpen-cerpen yang diseleksi memperlihatkan kreativitas dan memperlihatkan  kekuatan dalam puisi tersebut,

Secara keseluruhan, dewan kurator terbagi atas tiga genre, yaitu untuk genre esai yang dikuratori oleh Nukila Amal, Zen Hae dan Jamal D Rahman.

Untuk genre cerpen ditugasi kepada Rumahitam, Triyanto Triwikoromo, Sihar Ramses Simatupang dan Linda Christanty. Sedangkan untuk puisi, kuratornya adalah Isbedy Setiawan, D Kemalawati, Joko Pinurbo dan Rudi Fofid.

"Naskah yang masuk ke panitia Temu Sastra Indonesia IV ini 248 cerpen, 495 puisi. Sedangkan esai yang dipilih dari karya narasumber yang diundang Temu Sastra Indonesia IV," kata Sofyan.(zul)

Daftar Sastrawan  yang Lolos Seleksi

1. Abdul Salam HS Banten
2. Ahmad Faqih Mahfuz Yogyakarta
3. Adin Jawa Tengah
4. Adri Sandara Sumatera Barat
5. AF Kurniawan Jawa Tengah
6. A. Faruqi Munif Jawa Timur
7. Ahmad Davis K Jambi
8. Ahmad Syahid Jawa Barat
9. Alek Subairi Jawa Timur
10. Alex R Nainggolan Jakarta
11. Arizal Tanjung Sumatera Barat
12. Alya Salasha Sinta Bekasi
13. Amin Basiri Jawa Timur
14. Arther Panther Oli Sulawesi Utara
15. Bambang Widiatmo Jakarta
16. Boedi Ismanto SA Yogyakarya
17. Damiri Mahmud Sumatera Utara
18. Dedi Supendra Sumatera Barat
19. Dedi Triadi Malang
20. Dian Hartati Jawa Barat
21. Dino Umahuk Ternate
22. Doddy Kristanto Jawa Timur
23. Doel CP Alisah Aceh
24. Dwi Setyo Wibowo Jawa Tengah
25. Edi Firmansyah Jawa Timur
26. Effendi Danata NTB
27. Esha Tegar Putra Sumatera Barat
28. Fajar Martha Riau
29. Fatkurrahman Jawa Barat
30. Fatih Kudus Jailani NTB
31. Febrie Hastanto Jawa Tengah
32. Frans Ekodhanto Jakarta
33. Galah Denawa Jawa Barat
34. Hanna Fransiska Jakarta
35. Herdoni Syafrians Sumatera Selatan
36. Herman RN Aceh
37. Herton Maridi Jawa Barat
38. Husen Arifin Jawa Timur
39. Husnu Abadi Riau
40. Idrus F Shahab Jakarta
41. Idris Siregar Sumatera Utara
42. I Putu Gede Pradipta Bali
43. Ishack Sonlay NTT
44. Jun Nizami Jawa Barat
45. KIKI Sulistyo NTB
46. Lailatul Kiptiyah Jakarta
47. Lina Kelana Jawa Timur
48. Mahmud Jauhari Ali Kalimantan Timur
49. Mahendra Jawa Timur
50. Maulana Satrya Sumatera Utara
51. Mohammad Ibrahim Ilyas Sumatera Barat
52. Muhammad Ridwan Jawa Timur
53. Mario F lawi NTT
54. Matdon Jawa Barat
55. Nanang Suryadi Jawa Timur
56. Nurhayat Arief Sumatera Selatan
57. Pungkit Wijaya Jawa Barat
58. Qizink La Aziva Banten
59. Restu Putra Jawa Barat
60. Rozi Kembara Jakarta
61. Rudi Ramdani Jawa Barat
62. Salman Yoga S Aceh
63. Shohifur Ridho Ilahi Yogyakarya
64. Sindu Putra NTB
65. Sulaiman Juned Sumatera Barat
66. Sulaiman Tripa Aceh
67. Sutan Iwan Sukri Munaf Bekasi
68. Setio Bardono Depok
69. Syaifuddin Gani Sulawesi Tenggara
70. Syaiful Rahman Jawa Timur
71. Sekar Arum -
72. Teja Purnama Sumatera Utara
73. Tulus Wijanarko Jakarta
74. Tina Aprida Marpaung Sumatera Utara
75. Toni Lesmana Jawa Barat
76. Tjahjono Widianto Jawa Timur
77. Umar Fauzi Ballah Jawa Timur
78. Wahyu Prastianto Jakarta
79. Vidy AD Daery Jawa Timur
80. Yan Zavin Auddjand -
81. Yori Komara Sumatera Barat

TIM DRAMA SMP PANCA BUDI MEDAN RAIH JUARA 3 DALAM LOMBA PEMENTASAN DRAMA ANTAR SMP/MTS SE KOTA MEDAN

 



TIM DRAMA SMP PANCA BUDI MEDAN RAIH JUARA 3 DALAM LOMBA PEMENTASAN DRAMA ANTAR SMP/MTS SE KOTA MEDAN

Tim Drama SMP Panca Budi Medan meraih prestasi gemilang dengan meraih juara 3 dalam Lomba Pementasan Drama Antar SMP/MTS se Kota Medan. Lomba yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan (Unimed) ini dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2023.

Tim Drama SMP Panca Budi yang terdiri dari 7 orang anggota, yaitu Afham Arifin (kelas VII 3), Filza Khairiah (kelas VII 3), Dhiny Alifia (kelas VII 3), Nabila Ramadhan (kelas VII 3), Rizky Asifa (kelas VII 3), Fayyadh (kelas VII 1), dan Fathan Galib (kelas VIII 2), berhasil menarik perhatian juri dengan penampilan mereka yang memukau.

Keberhasilan tim Drama ini tak lepas dari bimbingan guru pembimbing mereka, Ibu Tina Aprida Marpaung, S.Pd. Dalam pementasan drama berjudul "Tua Aren," tim ini menghadirkan sebuah karya yang memukau dalam bentuk video yang kemudian dikirimkan kepada juri. Mereka berhasil mengungguli 18 sekolah SMP lainnya yang turut berpartisipasi dalam lomba yang bergengsi ini.

Manajemen SMP Panca Budi Medan merasa sangat bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keberhasilan tim Drama ini. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata dari dedikasi, kerja keras, dan semangat pantang menyerah para anggota tim serta bimbingan yang baik dari guru pembimbing.

Tim Drama SMP Panca Budi Medan telah menunjukkan bakat dan kemampuan mereka dalam seni drama melalui pementasan yang penuh emosi dan akting yang mengesankan. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa SMP Panca Budi Medan memiliki program pendidikan seni yang efektif serta mampu menghasilkan peserta didik berbakat di bidang seni.

Pencapaian ini tidak hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk mengeksplorasi bakat dan minat mereka di bidang seni. Diharapkan prestasi tim Drama SMP Panca Budi Medan dapat menjadi motivasi bagi sekolah dan siswa lainnya untuk terus berprestasi di berbagai bidang.

 

(AP)

23-06-2023

 



DUA SISWA SMP PANCA BUDI MEDAN RAIH PRESTASI GEMILANG DALAM LOMBA PUISI AJANG AMUK TEATER SUMATERA UTARA MONOLOG NASIONAL KE-21

Prestasi gemilang kembali diraih oleh dua siswa SMP Panca Budi Medan dalam ajang Amuk Teater Sumatera Utara Monolog Nasional Ke-21 yang diadakan oleh UKM Teater LKK Unimed. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, (25/7/2023).

Jalu Inggita Sasmaya, siswa kelas 9-2, berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Cipta Puisi. Karya puisinya berjudul "Di Tanah Pertiwi". Puisi ini menjadi pengingat akan perjuangan pahlawan-pahlawan yang rela mengorbankan nyawa demi menjaga keutuhan Indonesia. Dalam lomba ini Jalu  dibimbing oleh guru pembimbing, Ibu Tina Aprida Marpaung, S.Pd.

Tak hanya itu, Fathan Ghalib Fahrezi, siswa kelas 9-2, mengukir namanya dengan meraih Juara Harapan 1 dalam kategori Baca Puisi. Dalam penampilannya, Fathan membawakan puisi berjudul "Tanah Air Mata" karya Sutardji Calzoum Bachri. Ia berhasil menyampaikan emosi dan makna puisi dengan penuh penghayatan. Seperti rekan sekelasnya, Fathan juga merasa beruntung atas dukungan dan arahan dari Ibu Tina Aprida Marpaung, S.Pd., yang sebelumnya telah membimbingnya dalam ekskul puisi dan teater.

Hernawan Syahputra Lubis, MA, Kepala Sekolah SMP Panca Budi Medan, dengan bangga menyatakan apresiasinya terhadap prestasi yang dicapai oleh kedua siswanya. Beliau menegaskan komitmen sekolah dalam mendukung dan mengembangkan potensi setiap peserta didiknya, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. "Prestasi ini bukan hanya kebanggaan sekolah, tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan mereka," ujar Hernawan.

Keberhasilan Jalu Inggita Sasmaya dan Fathan Ghalib Fahrezi dalam ajang Amuk Teater Sumatera Utara Monolog Nasional Ke-21 adalah bukti konkret bahwa dedikasi, bimbingan, dan semangat untuk berkarya dapat menghasilkan prestasi gemilang. Prestasi ini tidak hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam memajukan seni dan budaya di Indonesia.

 

(AP)



Sabtu, 30 September 2023

sEMpRO0 sIDAng












 

RAUDAH JAMBAK
































 

Naskah Monolog

 



(pilihan Naskah lomba monolog) Tumor karya M. Raudah Jambak

PENTAS BISA DIMANA SAJA. BISA MENGGAMBARKAN APA SAJA. LAMPU BRMAIN SUASANA. MUSIK BERMAIN SITUASI. TERSERAH. TAPI YANG JELAS SEORANG LELAKI TERLIHAT SIBUK. DENGAN BERPAKAIAN YANG TERSERAH. MEMBOLAK-BALIKKAN LEMBAR KORAN. SEOLAH MENCARI SESUATU. MEMBUKA HALAMAN DEMI HALAMAN BUKU. MENCARI DI FILE KOMPUTER. MENULISKAN SESUATU DIKERTAS. MEMBUANGNYA. MENULIS SESUATU DI KERTAS, LALU MEROBEK-ROBEKNYA. MENGACAK-ACAK RAMBUT. MENYERUPUT KOPI. KEMUDIAN MENGAMBIL SEBATANG ROKOK. MENYALAKANNYA. MENGHISAPNYA DALAM-DALAM. PENUH KENIKMATAN.
            LELAKI ITU TIDAK BERAPA LAMA BERGERAK MONDAR-MANDIR SEOLAH SEDANG MENCARI INSPIRASI BARU DAN TERKEJUT KETIKA IA MENGINJAK SESUATU DAN TERPELESET.
Aduh....! sialan ! Siapa yang membuah sampah sembarangn ! Binatang ! Jin tanah, jin api, jin air, jin udara. Jin segala jin ! Setan ! Sumpah ! Eh, maaf. Ada kalian. Dan mumpung ada kalian, aku mau bertanya. Ah, tak usah kuatir. Aku masih bisa kontrol. Ya, iyalah. Sebab kontrol adalah nama lain dari nama asliku. Nama asliku? Aku Syaiful. Hehehe. Tenang. Boleh aku bertanya kan? Boleh? Oke. Trims. Siapa ya kira-kira yang membuah sampah sembarangan ini? Tak apa-apa. Aku mau kasih sesuatu. Kalau dia laki-laki akan kuajak diskusi. Bukan konfrontasi. Nah, kalau dia perempuan akan kujadikan ... hus, bukan istri, tapi inspirasi ... hehehe,,, ah, masak!? Kalian menuduh. Aku!? Ya, sudahlah. Kalau memang aku, berarti tidak ada persoalan. Walaupun sebenarnya aku sering bermasalah dengan diriku sendiri. Ya, sudahlah. Ooo, anu... tunggu sebentar.
LELAKI ITU SECEPAT KILAT MENCARI-CARI SESUATU DI LACI. DI ATAS MEJA DAN DITUMPUKAN-TUMPUKAN SAMPAH. LALU TERTAWA SUMRINGAH KETIKA MENEMUKAN SEBUAH KERTAS YANG SUDAH REMUK. KEMUDIAN MENARI-NARI KEGIRANGAN.
Ah, ini dia. Hahaha. Aku sedang melakukan riset dan menjadikannya cerpen. Bukan begitu. Ini contoh keseriusanku. Aku menulis karena itu aku ada. Aku ada karena itu menulis. Hehehe. Ah, coba kalian simak. Ya, simak. Tidak. Aku tidak akan terlihat sentimentil. Aku akan membaca cuplikannya berapi-api. Ya. Begitu. Nah, begini.
LELAKI ITU LALU MULAI MEMBACA. SEPERTI SEORANG DEKLAMATOR
Diruas ranting perjalanan semut semut beriringan. Hari sekuning cahaya. Embun yang terus menerus menitik tadi pagi, sudah lama mengering. Melahirkan debu. Di antara semut yang beriringan, seekor diantaranya, terpeleset jatuh. Tepat diatas daun yang yang berlayar bersama air mengalir. Arusnya sangat perlahan, seperti seekor ulat yang merayap dipatahan-patahan ranting. Ini bulan yang kesekian.
LELAKI ITU BERHENTI MENYERUPUT KOPI. LALU MELIRIK KE PENONTON. ADA PERASAAN MALU.
Hehehe. Sebenarnya, cerita ini hampir seratus persen bercerita tentang aku. Apa!? Tidak percaya!? Ya, sudahlah, kalian dengarkan saja. Aku tulis nama tokohnya. Kubaca ya!? Terimakasih.
LELAKI ITU MENCARI BARIS-BARIS DALAM TULISAN DAN MELANJUTKAN MEMBACA LAGI.
Lelaki itu tercenung. Tatapan mataya menahun. Tak lepas memandang ranting, daun, semut, ulat, maupun aliran air yang mengalir. Hari masih sekuning cahaya. Pada dahi lelaki itu telah tercatat baris-baris beban. Begitu buram. Pikirannya kembali terbang di pinggir ranjang. Perempuan itu, istrinya, mengangis tersedu-sedu. Lelaki itu seperti kehilangan kata. Tak mampu harus berbuat apa.
MENATAP KE ARAH PENONTON. WAJAHNYA AGAK SEDIKIT KECEWA.
Mengapa kalian diam? Tak enak ya? Wah, pikiran kalian sama dengan pikiran istriku. Hanya mungkin lebih beringas. Malah tanpa sebab, ia pernah meminta cerai padaku.”Pokoknya, aku mau pisah. Aku minta cerai. Titik!” aku Cuma bisa diam. Hatiku serasa kelam. Katanya lagi, “ Kalau abang tidak mau, jangan salahkan kalau nati rumah ini penuh dengan nisan!”
LELAKI ITU MERAS TUBUHNYA SEKETIKA LEMAS. IA JALAN PERLAHAN MENGAMBIL. KURSI LALU DUDUK DENGAN WAJAH YANG MURAM.
Waktu itu aku hanya terduduk di pinggir ranjang. Bibirku masih tetap terkatup.
LELAKI ITU PERLAHAN MENGAMBIL SEBATANG ROKOK DARI SAKUNYA MEMBAKARNYA, LALU MENGHISAPNYA DALAM-DALAM. MENERAWANG JAUH.
 Tatapan mataku mamaku di dinding. Pada sebuah foto perkawinan yang tergantung. Ada kebahagiaan yang tergurat jelas di sana. Bingkainya yang keemasan itu, menambah lengkapnya kebahagiaan kedua tokoh, foto pernikahan kami, yang tergambar abadi disana. Aku waktu itu masih terdiam. Hanya tatapan mataku yang menyebar kesetiap sisi dan sudut ruangan kamar. Aku masih ingat, betapa kamar kami telah menjadi saksi yang paling layak dipercaya. Demi mengingat itu hatiku memanas. Kalian tahu, demi perempuan itu segelanya rela kukorbankan. Tetapi apa yang kudapatkan. Lacur dasar lacur. Perempuan yang katanya istriku, yang paling kucintai melebihi segalanya itu, telah menghancurkanku kebahagiaan rumah tangga yang kami bina begitu rupa.
LELAKI ITU BERDIRI. ROKOK YANG BELUM HABIS ITU DICAMPAKKAN BEGITU SAJA DILANTAI. LALU LELAKI ITU MENGINJAK-INJAKNYA DENGAN PENUH KESAL.
Awalnya, aku berfikir. Ia sering marah-marah, karena aku selalu larut dalam tulisan. Kemudian, lupa menemaninya tidur. Lupa mengajaknya berbicara dan bercanda. Lupa segalanya. Kupikir itu. Kalian tidak percaya!? Ah, jangankan kalian istriku saja selalu menaruh curiga padaku. Lupakan. Lupakan saja. Aku hanya ingin menceritakan tentang istriku pada kalian. Isteriku yang selalu memarahiku kalau terlambat pulang kerumah. Isteri yang selalu memarahiku kalau aku sedang menerima telepon atau sms dari seorang perempuan yang sebenarnya belajar menulis kepadaku. Isteri yang kuanggap setia. Eh, ternyata...?
LELAKI ITU TERDIAM. DIA MENGAMBIL SESUATU DI SAKU CELANANYA. SEBUAH SAPU TANGAN. KEMUDIAN MENGHAPUS AIR MATANYA.
Bukan. Aku bukan menangis. Mataku erasa sedikit gatal saja. Mungkin terlalu lama menulis. Sehingga mataku terasa lelah. Sumpah. Aku tidak menangis. Aku marah. Coba kalian pikir. Disini. Ya disini, ditempat ini. Isteri yang sekarang kusebut perempuan itu, tiba-tiba datang memelukku. Sambil berteriak kegirangan ia menyamaikan sesuatu, “aku hamil, bang.” Isteri yang kusebut perempuan itu memelukku penuh gembiri. Aku segera melepaskan pelukan itu dengan tiba-tiba. Dia terkejut dan bertanya, “kenapa, bang?” mata isteri yang kusebut perempuan itu mulai berkaca. Kebahagiaan yang paling diimpikannya seolah raib begitu saja. “apa ada yang salah?” isteri yang kusebut perempuan itu bertanya lagi. Puih! Dia lalu menerorku dengan bebagai pertanyaan-pertanyaan yang paling tidak aku suka. “abang tidak bahagia dengan kehadiran anak kita?” isteri yang kusebut Perempuan itu menggoncang tubuhku. “Atau Abang berpikir yang tidak-tidak tentang aku?”
LELAKI ITU BANGKIT. IA MERASA BERSEMANGAT DAN PENUH KEMENANGAN.
Tahukah kalian apa yang kulakukan selanjutnya. Tidak!? Aku hanya diam. Ya, hanya diam. Ada beban dan sesuatu yang tak perlu kuucapkan. Ada kata-kata yang terbelah menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Sejak itu, aku lebih memilih mengakrabkan diri dengan tulisan-tulisanku dan sebatang pohon jarak yang tumbuh tepat dipinggir parit di belakang rumah kami. Eh, maaf rumahku. Kenapa? Karena aku yang membelinya. Ya. Pada sebatang pohon jarak itu aku berdialog dengan kesunyian. Bercengkrama dengan kesepian. Karena aku merasa hatiku kosong begitu kosong.
LELAKI ITU BERGERAK MENGAMBIL GITAR BERNYANYI DENGAN SUARA YANG SETELAH GALAU. BERHENTI. MENYERUPUT KEMBALI KOPI KENTAL. YANG TERLALU LAMA DINGIN ITU
Mungkin hanya kalianlah yang mengerti perasaanku saat ini. Betapa sakitnya dikhianati. Bagaimana aku bisa bergembira dengan kehamilan isteriku. Tidak. Tidak samasekali. Aku tidak akan memberitahukannya pada kalian. Karena itu adalah aib. Mungkin pada saat yang tepat aku akan berbagi pada kalian. Aku lebih memilih diam. Termasuk pada isteri yang sekarang kusebut perempuan itu. Berhari-hari, bahkan sudah melewati bulan kedelapan, aku selalu seperti itu, jika tidak ada kesibukan lain yang memaksaku untuk berburu dengan waktu. Lalu teriakan, jeritan, tangisan isteri yang sekarang kusebut perempuan itu selalu membakar segala ketidakberdayaanku menjadi sebuah kekuatan. Adakah dari kalian yang cintanya dikhianati. Ya, persis. Akupun begitu! Sepakat!
LELAKI ITU TIBA-TIBA MENUJU KEARAH SUDUT-SUDUT RUANGAN. ADA PERASAN CURIGA. IA MERASA SEDANG DIAWASI. TETAPI KETIKA MERASA SEMUANYA AMAN IA KEMBALI LAGI. MENYERUPUT KOPI LAGI. DAN BERBISIK.
Aku sebenarnya begitu mencintainya. Tapi, aku malu mengakuinya. Pernah satu kali ia memaksaku untuk memeriksakan diri ke dokter. “Ayo kita ke dokter, periksa DNA,” ujar isteri yang sekarang kusebut perempuan itu terbata. Aku masih juga terdiam. Lalu isteri yang sekarang kusebut perempuan itu histeris, “Aku tidak akan pernah memeriksa kandungan ini.” Air matanya menderas.” jika Abang tidak mau ikut memeriksakan diri juga” Plak! Kata-kata itu seperti menamparku bertubi-tubi. Tapi, aku juga tetap diam, tidak mau bicara. Rasa malu, marah dan kecewa serasa berganti-ganti. Isteri yang kusebut perempuan itu berteriak lagi,”Abang tidak bisa selamanya terus begini,” ujar isteri yang sekarang kusebut perempuan itu sambil menyeka air mata,” Diam tidak akan pernah menyelesaikan segalanya!”
LELAKI ITU KEMBALI KE MEJA KERJANYA MENCARI-CARI SESUATU. DAN DIA SEPERTINYA TIDAK MENEMUKAN SESUATU.
Coba kutanya pada kalian. Jika kalian menerima musibah yang serupa dengan apa yang kalian lakukan? Marah? Benci? Atau diam? Nah, nah, nah. Akupun seperti tu. Aku hanya diam. Tetapi, isteri yang kusebut perempuan itu terus meracau. “Bicara!” isteri yang kusebut Perempuan itu berteriak sekuat-kuatnya, “Bicara!” isteri yang kusebut perempuan itu terus meracau. Berteriak. Menjerit. Berlari kesana kemari. Ia terus dan terus menjambak-jambak rambutnya. Menangis sejadi-jadinya. “jika kehamilan ini yang menjadi persoalan, maka aku akan menggugurkannya. Walau usia kandunganku ini sudah termasuk bulan kelahiran. Atau kita sebaiknya bercerai!” isteri yang kusebut Perempuan itu terus berteriak, “Pengecut! Banci! Kita cerai! Dengar! Aku mintai cerai!”
WAJAH LELAKI ITU TIBA-TIBA MENEGANG. ADA GEJOLAK YANG SEAKAN MENDESAK HENDAK MELEDAK
“Diam!” Aku mengerang. Gundahku meledak. Rokok yang sedari tadi bergantung disela-sela jariku, terloncat begitu saja. Nyaris mengenai isteri yang kusebut perempuan itu. Isteri yang kusebut Perempuan itu meradang. “Aku minta cerai! Titik!” Aku membalas. “Diam! Kalau aku bilang diam, diam!” Dia tak mau kalah, “Aku tidak akan pernah diam, jika Abang tidak jelaskan kepadaku tentang sikap Abang selama ini. Kebencian Abang yang begitu tiba-tiba kepadaku, terutama kepada calon anak kita. Dan Aku tidak akan pernah diam, kecuali Abang menceraikan aku. Aku minta cerai!” Aku tak mau kalah. “Aku benci padamu!Aku benci pada anak yang dikandunganmu! Aku benci diriku sendiri!” Kami terdiam beberapa saat. Isteri yang sekarang kusebut perempuan itu coba melunak. “Kenapa? Apanya yang salah?” desak perempaun itu,”seharusnya Abang bangga. Bangga dengan kehadiran anak kita. Anakmu, Bang?.” Aku menggeleng dan menghindar. Pandanganku jauh. Kukatakan padanya dengan suara berat dan tertahan. “Itu bukan anakku. Dengar itu bukan anakku!” Isteri yang sekarang kusebut perempuan itu berusaha untuk terus melunak. “Jadi, secara tidak langsung aku melakukannya dengan orang lain. Abang pikir, aku telah berzinah, aku selingkuh?!” Aku marah. Ya, aku marah terutama pada diriku sendiri. Kukatakan padanya. “Pokoknya anak itu bukan anakku. Titik!” aku lalu pergi begitu saja. Jiwaku mengerang. Waktu itu aku pergi dengan berjuta kekalahan, meninggalkan isteri yang sekarang kusebut perempuan itu. Isteri yang sekarang kusebut Perempuan itu ditumpuk-tumpuk amuk.
LELAKI TU TIBA-TIBA MENGMABIL KURSI DAN MELETAKKANNYA DIATAS MEJA. KEMUDIAN MENGAMBIL SESUATU DI TUMPUKAN KERTAS. BERDIRI DI SAMPING KURSI KEMUDIAN BERTERIAK-TERIAK SEOLAH DEKLAMATOR HANDAL.
Diruas ranting perjalanan semut semut beriringan. Hari sekuning cahaya. Embun yang terus menerus menitik tadi pagi, sudah lama mengering. Melahirkan debu. Diantara semut yang beriringan, seekor diantaranya, terpeleset jatuh. Tpat diatas daun yang berlayar bersama air mengalir. Arusnya kadang deras, kadang sangat perlahan , seperti seekor ulat yang merayap di patahan-patahan ranting. Angin berhembus disela-sela daun. Melintas begitu saja. Hari semakin beranjak jingga. Sayup dari kejauhan suara seseorang mengundang cemas.
LELAKI ITU BERHENTI. MENURUNI MEJA. LALU MENYERUPUT KOPI YANG TINGGAL AMPASNYA. MENGAMBIL SEBATANG ROKOK DAN MENYALAKANNYA. MENGHISAPNYA DALAM-DALAM. TATAPANNYA MENERAWANG.
Lama aku merenung. Tidak. Aku hanya merenung. Aku sadar. Aku tidak perlu egois. Sebenarnya aku malu. Tapi, aku harus tahu diri. Apalagi ketika tetanggaku datang tergesa-gesa menemuiku. “Kakak pingsan, Bang. Cepat. Operasinya lagi berjalan!”. Secepat angin, begitulah aku terbang. Menembus segala kegelisahan. Rasa maluku menjalar. Betapa tidak, sudah lama aku ingin mengatakan bahwa aku sudah tidak mampu memberikan keturunan kepada istri yang sekarang sudah kusebut isteriku. Batinku terus berontak. Rasa senang tidak ingin memiliki anak sudah kubuang jauh-jauh. Tetapi, istriku hamil? Isteriku tengah dioperasi. Istriku, ah. Dan isteriku tidak menyadari betapa aku ternyata begitu mencintainya. Aku juga merasakan rasa takut sekaligus rasa malu yang bukan kepalang, jika ketahuan. Secepat angin, begitulah aku datang. Menyambut dokter yang keluar dari ruang operasi seperti takut dan senang. “Selamat!” kata dokter itu. “Terimakasih, Dok. Apa anaknya, Dok. Sehatkan, Dok?” tanyaku hati-hati. “Anak siapa?”dahi dokter berkerut. Ia lantas tersenyum, “ooo, bukan. Istri Bapak tidak mengandung. Istri bapak terkena tumor. Dan kami berhasil mengangkatnya. Sekarang sedang beristirahat.” Aku was-was sekaligus puas, “Tapi katanya...hamil?” Aku merasa melayang ketika dokter itu menggelengkan kepala. Aku gembira. Bahagia! Aku ingin menari dan berpuisi!
LELAKI ITU LALU MELENGGAK-LENGGOKKAN TUBUHNYA. IA MENARI. IA BERPUISI.
Secepat arus air mengalir, begitu ia tergelincir. Secepat datang, secepat itu pula ia pergi. Senang dan benci begitu saja hadir silih berganti. Dan ini memang ramadhan kesekian.
LELAKI ITU TERUS MENARI DAN SEOLAH PEJUANG YANG MENANG DARI GELANGGANG PERANG IA NAIK KEATAS MEJA DAN BERTERIAK SEKUAT-KUATNYA
Istriku aku cinta padamu!
LAMPU PERLAHAN PADAM. MUSIK PERLAHAN DIAM. PADAM
SELESAI

Medan, KOMUNITAS HOME POETRY, 06-12-14
BIODATA

M.Raudah Jambak, S.Pd, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Pernah bersingguangan di Komunitas Forum Kreasi Sastra, Komunitas Seni Medan, Komunitas Garis Lurus, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, Komunitas Sastra Indoneisa, Seniman Indonesia Anti Narkoba, dll. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK, Dosen Ilmu Komunikasi Filsafat Panca Budi Medan. Alamat tugas : Jalan Jenderal Gatot Subroto Km 4,5 Medan, Sumatera Utara. Hp 085830805157. Kontak Person TBSU- Jl. Perintis Kemerdekaan, no. 33 Medan. Saat ini sebagai Direktur Komunitas Home Poetry. Kegiatan terakhir mengikuti Temu Sastrawan III di Tanjung Pingan. Cukup banyak kegiatan yang digeluti sejak SD yang berkaitan denan seni, sastra dan budaya. Lokal, nasional, maupun Asia Tenggara. Secara nasional dimulai pada event PEKSIMINAS di Jakarta (Teater, 1995), LMCP_LMKS di Bogor (sampai 2008), MMAS Guru-guru se Indonesia di Bogor (2008), work shop cerpen MASTERA, di Bogor(2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta, TSI 1-3, Juara Unggulan 1 Tarung Penyair Se-Asia Tenggara di Tanjung Pingan. Nominasi cipta puisi nasional Bentara, Bali, dll.