Balada Si Boru Deak Parujar
Karya : Raudah Jambak
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindangbagi penghuni banua ginjang tidaklah sesunyi porlak
sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan rahasia abadi.
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon membelai
seramai ranting dan daunnya. mendapat amanat sepanjang
hayat, laklak segala kitab mengungkap segala wasiat
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon berdaun
menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup
ke lapis langit pertama memanjatkan do’a mengharap
cinta di setiap lembarnya, melepas gairah bersama
ranting-ranting patah.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
hobarna, bermula kisah manuk hulambujati, induk
tiga telur besar yang mengandung batara guru
mengandung debata sori dan mangalabulan.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
torsa, berlanjut kisah manuk hulambujati mengeramkan
tiga telur lagi; mengandung siboru parmeme, siboru parorot,
dan siboru panuturi.
siboru deak parujar, putri bungsu batara guru dan siboru
parmeme, berkali-kali pergi ke bawah rindang tumburjati,
mendengar cerita manuk hulambujati yang bertengger
di puncak tertinggi. ia seperti cahaya bintang-bintang
yang berkejaran. moncongnya berpalang besi, kukunya
bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa
nan berkilau bersahabat dengan leang-leang mandi,
leang-leang nagurasta, dan untung-untung nabolon,
sebagai pelayan dan penyampai pesan
“Wahai, Manuk Hulambujati, untung-untung Nabolon.
Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? ”
siboru deak parujar tak lagi memaksa diri. setiap kali
kembali ke bawah rindang tumburjati, diam-diam
mengajak siboru sorbajati. tak lupa merapikan letak hulhulan,
penggulungan besar untuk benang tenunan.
“Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa.
Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik
daripada tidak ada. Seandainya ayah kita berkenan juga
menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga,”
ujar siboru sorbajati, si kakak tercinta memancing cerita.
keturunan laki-laki batara guru mendapat pasangan dari putri
debata sori. anak laki-laki debata sori dari putri mangalabulan.
anak mangalabulan mendapatkan pasangan dari putri batara guru,
memilih antara siboru deak parujar dan siboru sorbajati.
“Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak
Mangalabulan itu! Lebih baik melompat dari puncak rumah
dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap.”
mereka pun meneruskan gulungan benang tenun sampai
memulai tenunan baru. berhari-hari, berbulan-bulan.
batara guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi
untuk mendesak salah satu putrinya dipersunting siraja odap-odap.
“Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.
siboru sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi
panggilan ayah, mendengar suara-suara yang menanti
di halaman rumah. benar-benar melakukan niatnya dengan
melompat dari puncak rumah sambil menyumpahi diri
agar menjadi batang enau saja.
“Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.”
“Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai.”
sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi
alat tenunnya itu sambil menikmati. dan terpikir
melemparkan hasoli, masih tergulung benang
yang dipindah dari hulhulan.
semalaman batara guru tetap berjaga agar putrinya
tidak melarikan diri. bunyi alat tenun siboru deak parujar
didengarnya mulai berhenti. “putriku, deak parujar!”
siboru deak parujar menyahut panggilan batara guru sekali,
selebihnya dia sudah bergayut pada benang yang menjulur
entah sampai ke mana. semakin turun, nampaknya dunia
bawah tidak jelas dan sangat gelap. angin kencang dan
lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan.
“Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…!
Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah
untuk tempatku berpijak di bawah! Aku tak mau
kembali ke Banua Ginjang.”
sekepul tanah yang dikirimkan, ditekuk
siboru deak parujar, langsung menghampar
tempat berpijak menjadi awal banua tonga.
naga padoha menggoyang guncangan. dari bawah
tanah menyulam amarah. sebab frustrasi
dengan nai rudang ulubegu.
“Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan
kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu
Leang-leang Mandi, si burung layang-layang!”
permohonannya sampai untuk ditekuk kembali,
lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala.
menghindari terik delapan matahari mengeringkan
banjir air di banua tonga. menghunus pedang
menaklukkan naga padoha yang berang.
naga padoha masih menyimpan dendam
mengguncang dari banua toru, tempat segala
kegelapan, kejahatan, dan kematian.
“Suhul! Suhul!”
mulajadi nabolon mengirimkan bibit-bibit tumbuhan
dan hewan, memasukkan ke dalam sebuah lodong poting,
potongan batang bambu, berisi benih bercampur jasad
siraja odap-odap, menghampiri siboru deak parujar
di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan.
“Boru Deak-Parujar, tenunlah sehelai ulos ragidup,
kemudian lilitkan ulos itu pada lodong itu lalu bukalah tutupnya.”
pertemuan siboru deak parujar dengan siraja odap-odap,
sebagai tuan mulana di banua tonga tak bisa lagi ditolak.
mulajadi nabolon memberkati mereka hingga melahirkan,
raja ihat manusia dan pasangannya bernama itam manusia,
manusia pertama.
siboru deak parujar dan siraja odap-odap kembali ke banua ginjang,
melalui seutas benang.
“Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan.
Di situlah aku kelihatan kembali bertenun dan menyulam.”
2013
🎠NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG
Judul: Benang dari Langit – Kisah Si Boru Deak Parujar
Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi mitologis dengan musik gondang Batak, multimedia, dan tari simbolik Bahasa: Indonesia dan Batak Toba
🧩 KARAKTER
Narator
Si Boru Deak Parujar
Si Boru Sorbajati
Batara Guru
Siraja Odap-Odap
Manuk Hulambujati
Leang-leang Mandi
Naga Padoha
Penari Tenun dan Penari Gondang
⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT
| No | Adegan | Durasi | Deskripsi Singkat |
|---|---|---|---|
| 1 | Prolog: Pohon Tumburjati | 5 min | Narator membuka dengan puisi dan pohon kehidupan |
| 2 | Manuk Hulambujati dan Telur Langit | 10 min | Asal mula Batara Guru dan para dewa |
| 3 | Tenun dan Penolakan | 10 min | Si Boru Deak Parujar menolak dijodohkan |
| 4 | Pelarian dan Turunnya Benang | 10 min | Ia turun ke dunia bawah melalui benang tenun |
| 5 | Banua Tonga dan Naga Padoha | 10 min | Ia menciptakan tanah dan menghadapi naga |
| 6 | Lodong Poting dan Ulos Ragidup | 10 min | Pertemuan dengan Siraja Odap-Odap dan penciptaan |
| 7 | Epilog: Kembali ke Langit | 5 min | Ia kembali ke langit, meninggalkan pesan abadi |
🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Pohon Tumburjati”
Cue Musik: Gondang sabangunan lembut Cue Cahaya: Cahaya hijau dan biru Properti: Proyeksi pohon besar, daun jatuh
Narator (di tengah panggung):
“Pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang… Menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup ke langit pertama…”
Blocking:
Penari Tenun menari di bawah pohon.
Si Boru Deak Parujar duduk menenun di bawahnya.
🎬 ADEGAN 2 – MANUK HULAMBUJATI DAN TELUR LANGIT
Cue Musik: Musik sulim dan taganing Cue Cahaya: Cahaya putih dan emas Properti: Telur raksasa, proyeksi langit
Narator:
“Di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka hobarna…”
Manuk Hulambujati (voice-over):
“Tiga telur besar mengandung Batara Guru, Debata Sori, dan Mangalabulan…”
Blocking:
Telur-telur muncul dari langit.
Penari Gondang menari mengelilingi telur.
🎬 ADEGAN 3 – TENUN DAN PENOLAKAN
Cue Musik: Musik tenun, ritme alat tenun Cue Cahaya: Cahaya jingga Properti: Alat tenun, benang, hulhulan
Si Boru Sorbajati:
“Seandainya ayah menjodohkanku dengan Siraja Odap-Odap, aku akan turut juga…”
Si Boru Deak Parujar:
“Ah, berpapasan saja aku tidak mau! Lebih baik menjadi batang enau…”
Batara Guru (memanggil):
“Kemarilah kalian berdua…”
Blocking:
Sorbajati melompat dari rumah, berubah menjadi batang enau.
Deak Parujar terus menenun.
🎬 ADEGAN 4 – PELARIAN DAN TURUNNYA BENANG
Cue Musik: Musik dramatis, suara angin Cue Cahaya: Cahaya biru gelap Properti: Benang panjang, proyeksi langit terbuka
Narator:
“Deak Parujar bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana…”
Si Boru Deak Parujar:
“Leang-leang Mandi! Kumohon sekepul tanah untuk tempatku berpijak!”
Blocking:
Ia menuruni benang, angin berhembus kencang.
Tanah kecil muncul dan menghampar.
🎬 ADEGAN 5 – BANUA TONGA DAN NAGA PADOHA
Cue Musik: Musik gondang perang Cue Cahaya: Cahaya merah dan hitam Properti: Lodong bambu, pedang, topeng naga
Narator:
“Naga Padoha mengguncang dari banua toru…”
Si Boru Deak Parujar:
“Ompung Mulajadi Nabolon, kirimkan kembali sekepul tanah dan pedang!”
Blocking:
Ia menghunus pedang, menari melawan naga.
Naga mundur ke kegelapan.
🎬 ADEGAN 6 – LODONG POTING DAN ULOS RAGIDUP
Cue Musik: Musik lembut, suara air Cue Cahaya: Cahaya hijau dan putih Properti: Lodong bambu, ulos ragidup
Mulajadi Nabolon (voice-over):
“Tenunlah ulos ragidup, lilitkan pada lodong, lalu bukalah…”
Si Boru Deak Parujar:
“Aku menerima takdir ini…”
Blocking:
Ia menenun ulos, melilitkan pada lodong.
Siraja Odap-Odap muncul dari dalamnya.
🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: KEMBALI KE LANGIT
Cue Musik: Musik purnama Cue Cahaya: Cahaya putih dan biru Properti: Benang cahaya, proyeksi bulan
Narator:
“Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan…”
Si Boru Deak Parujar:
“Di situlah aku kelihatan kembali, bertenun dan menyulam…”
Blocking:
Ia dan Siraja Odap-Odap naik melalui benang cahaya.
Penari Tenun menari di bawah bulan.