Jumat, 31 Oktober 2025

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI BALADA SI BORU DEAK PARUJAR KARYA RAUDAH jAMBAK

 Balada Si Boru Deak Parujar

Karya : Raudah Jambak

pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang
bagi penghuni banua ginjang tidaklah sesunyi porlak
sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan rahasia abadi.
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon membelai
seramai ranting dan daunnya. mendapat amanat sepanjang
hayat, laklak segala kitab mengungkap segala wasiat
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon berdaun
menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup
ke lapis langit pertama memanjatkan do’a mengharap
cinta di setiap lembarnya, melepas gairah bersama
ranting-ranting patah.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
hobarna, bermula kisah manuk hulambujati, induk
tiga telur besar yang mengandung batara guru
mengandung debata sori dan mangalabulan.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
torsa, berlanjut kisah manuk hulambujati mengeramkan
tiga telur lagi; mengandung siboru parmeme, siboru parorot,
dan siboru panuturi.
siboru deak parujar, putri bungsu batara guru dan siboru
parmeme, berkali-kali pergi ke bawah rindang tumburjati,
mendengar cerita manuk hulambujati yang bertengger
di puncak tertinggi. ia seperti cahaya bintang-bintang
yang berkejaran. moncongnya berpalang besi, kukunya
bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa
nan berkilau bersahabat dengan leang-leang mandi,
leang-leang nagurasta, dan untung-untung nabolon,
sebagai pelayan dan penyampai pesan
“Wahai, Manuk Hulambujati, untung-untung Nabolon.
Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? ”
siboru deak parujar tak lagi memaksa diri. setiap kali
kembali ke bawah rindang tumburjati, diam-diam
mengajak siboru sorbajati. tak lupa merapikan letak hulhulan,
penggulungan besar untuk benang tenunan.
“Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa.
Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik
daripada tidak ada. Seandainya ayah kita berkenan juga
menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga,”
ujar siboru sorbajati, si kakak tercinta memancing cerita.
keturunan laki-laki batara guru mendapat pasangan dari putri
debata sori. anak laki-laki debata sori dari putri mangalabulan.
anak mangalabulan mendapatkan pasangan dari putri batara guru,
memilih antara siboru deak parujar dan siboru sorbajati.
“Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak
Mangalabulan itu! Lebih baik melompat dari puncak rumah
dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap.”
mereka pun meneruskan gulungan benang tenun sampai
memulai tenunan baru. berhari-hari, berbulan-bulan.
batara guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi
untuk mendesak salah satu putrinya dipersunting siraja odap-odap.
“Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.
siboru sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi
panggilan ayah, mendengar suara-suara yang menanti
di halaman rumah. benar-benar melakukan niatnya dengan
melompat dari puncak rumah sambil menyumpahi diri
agar menjadi batang enau saja.
“Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.”
“Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai.”
sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi
alat tenunnya itu sambil menikmati. dan terpikir
melemparkan hasoli, masih tergulung benang
yang dipindah dari hulhulan.
semalaman batara guru tetap berjaga agar putrinya
tidak melarikan diri. bunyi alat tenun siboru deak parujar
didengarnya mulai berhenti. “putriku, deak parujar!”
siboru deak parujar menyahut panggilan batara guru sekali,
selebihnya dia sudah bergayut pada benang yang menjulur
entah sampai ke mana. semakin turun, nampaknya dunia
bawah tidak jelas dan sangat gelap. angin kencang dan
lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan.
“Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…!
Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah
untuk tempatku berpijak di bawah! Aku tak mau
kembali ke Banua Ginjang.”
sekepul tanah yang dikirimkan, ditekuk
siboru deak parujar, langsung menghampar
tempat berpijak menjadi awal banua tonga.
naga padoha menggoyang guncangan. dari bawah
tanah menyulam amarah. sebab frustrasi
dengan nai rudang ulubegu.
“Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan
kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu
Leang-leang Mandi, si burung layang-layang!”
permohonannya sampai untuk ditekuk kembali,
lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala.
menghindari terik delapan matahari mengeringkan
banjir air di banua tonga. menghunus pedang
menaklukkan naga padoha yang berang.
naga padoha masih menyimpan dendam
mengguncang dari banua toru, tempat segala
kegelapan, kejahatan, dan kematian.
“Suhul! Suhul!”
mulajadi nabolon mengirimkan bibit-bibit tumbuhan
dan hewan, memasukkan ke dalam sebuah lodong poting,
potongan batang bambu, berisi benih bercampur jasad
siraja odap-odap, menghampiri siboru deak parujar
di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan.
“Boru Deak-Parujar, tenunlah sehelai ulos ragidup,
kemudian lilitkan ulos itu pada lodong itu lalu bukalah tutupnya.”
pertemuan siboru deak parujar dengan siraja odap-odap,
sebagai tuan mulana di banua tonga tak bisa lagi ditolak.
mulajadi nabolon memberkati mereka hingga melahirkan,
raja ihat manusia dan pasangannya bernama itam manusia,
manusia pertama.
siboru deak parujar dan siraja odap-odap kembali ke banua ginjang,
melalui seutas benang.
“Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan.
Di situlah aku kelihatan kembali bertenun dan menyulam.”

2013


🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Benang dari Langit – Kisah Si Boru Deak Parujar

Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi mitologis dengan musik gondang Batak, multimedia, dan tari simbolik Bahasa: Indonesia dan Batak Toba

🧩 KARAKTER

  • Narator

  • Si Boru Deak Parujar

  • Si Boru Sorbajati

  • Batara Guru

  • Siraja Odap-Odap

  • Manuk Hulambujati

  • Leang-leang Mandi

  • Naga Padoha

  • Penari Tenun dan Penari Gondang

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Pohon Tumburjati5 minNarator membuka dengan puisi dan pohon kehidupan
2Manuk Hulambujati dan Telur Langit10 minAsal mula Batara Guru dan para dewa
3Tenun dan Penolakan10 minSi Boru Deak Parujar menolak dijodohkan
4Pelarian dan Turunnya Benang10 minIa turun ke dunia bawah melalui benang tenun
5Banua Tonga dan Naga Padoha10 minIa menciptakan tanah dan menghadapi naga
6Lodong Poting dan Ulos Ragidup10 minPertemuan dengan Siraja Odap-Odap dan penciptaan
7Epilog: Kembali ke Langit5 minIa kembali ke langit, meninggalkan pesan abadi

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Pohon Tumburjati”

Cue Musik: Gondang sabangunan lembut Cue Cahaya: Cahaya hijau dan biru Properti: Proyeksi pohon besar, daun jatuh

Narator (di tengah panggung):

“Pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang… Menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup ke langit pertama…”

Blocking:

  • Penari Tenun menari di bawah pohon.

  • Si Boru Deak Parujar duduk menenun di bawahnya.

🎬 ADEGAN 2 – MANUK HULAMBUJATI DAN TELUR LANGIT

Cue Musik: Musik sulim dan taganing Cue Cahaya: Cahaya putih dan emas Properti: Telur raksasa, proyeksi langit

Narator:

“Di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka hobarna…”

Manuk Hulambujati (voice-over):

“Tiga telur besar mengandung Batara Guru, Debata Sori, dan Mangalabulan…”

Blocking:

  • Telur-telur muncul dari langit.

  • Penari Gondang menari mengelilingi telur.

🎬 ADEGAN 3 – TENUN DAN PENOLAKAN

Cue Musik: Musik tenun, ritme alat tenun Cue Cahaya: Cahaya jingga Properti: Alat tenun, benang, hulhulan

Si Boru Sorbajati:

“Seandainya ayah menjodohkanku dengan Siraja Odap-Odap, aku akan turut juga…”

Si Boru Deak Parujar:

“Ah, berpapasan saja aku tidak mau! Lebih baik menjadi batang enau…”

Batara Guru (memanggil):

“Kemarilah kalian berdua…”

Blocking:

  • Sorbajati melompat dari rumah, berubah menjadi batang enau.

  • Deak Parujar terus menenun.

🎬 ADEGAN 4 – PELARIAN DAN TURUNNYA BENANG

Cue Musik: Musik dramatis, suara angin Cue Cahaya: Cahaya biru gelap Properti: Benang panjang, proyeksi langit terbuka

Narator:

“Deak Parujar bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana…”

Si Boru Deak Parujar:

“Leang-leang Mandi! Kumohon sekepul tanah untuk tempatku berpijak!”

Blocking:

  • Ia menuruni benang, angin berhembus kencang.

  • Tanah kecil muncul dan menghampar.

🎬 ADEGAN 5 – BANUA TONGA DAN NAGA PADOHA

Cue Musik: Musik gondang perang Cue Cahaya: Cahaya merah dan hitam Properti: Lodong bambu, pedang, topeng naga

Narator:

“Naga Padoha mengguncang dari banua toru…”

Si Boru Deak Parujar:

“Ompung Mulajadi Nabolon, kirimkan kembali sekepul tanah dan pedang!”

Blocking:

  • Ia menghunus pedang, menari melawan naga.

  • Naga mundur ke kegelapan.

🎬 ADEGAN 6 – LODONG POTING DAN ULOS RAGIDUP

Cue Musik: Musik lembut, suara air Cue Cahaya: Cahaya hijau dan putih Properti: Lodong bambu, ulos ragidup

Mulajadi Nabolon (voice-over):

“Tenunlah ulos ragidup, lilitkan pada lodong, lalu bukalah…”

Si Boru Deak Parujar:

“Aku menerima takdir ini…”

Blocking:

  • Ia menenun ulos, melilitkan pada lodong.

  • Siraja Odap-Odap muncul dari dalamnya.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: KEMBALI KE LANGIT

Cue Musik: Musik purnama Cue Cahaya: Cahaya putih dan biru Properti: Benang cahaya, proyeksi bulan

Narator:

“Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan…”

Si Boru Deak Parujar:

“Di situlah aku kelihatan kembali, bertenun dan menyulam…”

Blocking:

  • Ia dan Siraja Odap-Odap naik melalui benang cahaya.

  • Penari Tenun menari di bawah bulan.

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI SAJAK SAYANG NA SIPUANG KARYA RAUDAH JAMBAK

 SAJAK SAYANG NA SIPUANG

Karya : Raudah Jambak

Tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
Tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
Kami gualkan
Kami tarikan
Untukmu kekasih hati

O, Na sipuang, Na sipuang
(Sonaha...i huda-hudai do namatei....)
Engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih
Engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan sayang
Melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan
Melalui hembusan angin harapan diterbangkan
Adakah yang lebih indah dari cinta seorang ibu
Sejak kandungan harapan ditasbihkan
Setelah lahir kasih mengalir seperti air
Ketika dewasa menggudang segala cita

O, Na sipuang, Na sipuang
(Sonaha...i toping-toping do namatei....)
Ditalun-talun kisahmu tersiar
Ditalun-talun kisahmu terkabar
Di tanah ini kami mengobar mandillo tonduy
Di tanah ini kami senandungkan urdo-urdo i
Adakah yang lebih sedih dari tetes tangis ibu
Yang tak sempat tasbihkan harapan
Yang tak sempat mengalirkan kasih
Yang tak sempat membaca cita-cita

O, Na sipuang, na sipuang
Kami tabuh gonrang
Demi menjeput
Segala riang

Tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
Tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
Kami gualkan
Kami tarikan
Untukmu kekasih hati

2013

🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Na Sipuang – Gendang Cinta Seorang Ibu

Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi musikal dengan musik gondang Batak, multimedia, dan gerak simbolik Bahasa: Indonesia dan Batak Toba

🧩 KARAKTER

  • Narator

  • Na Sipuang (Ibu)

  • Anak Lelaki

  • Anak Perempuan

  • Penari Gondang

  • Suara Gendang (voice-over)

  • Bayangan Enggang dan Angin

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Tetabuh Gonrang5 minGendang ditabuh, panggung dibuka dengan syair
2Na Sipuang dan Doa Ibu10 minIbu menyampaikan kasih dan harapan
3Anak dan Cita-cita10 minAnak-anak tumbuh, membawa mimpi
4Bayangan yang Tak Sempat10 minIbu mengenang harapan yang tak sempat tersampaikan
5Gendang dan Tangis10 minGendang ditabuh untuk mengusir duka
6Tari Harapan dan Kibasan Enggang10 minTari simbolik doa dan cinta ibu
7Epilog: Untukmu Kekasih Hati5 minPenutup reflektif dan persembahan cinta

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Tetabuh Gonrang”

Cue Musik: Gondang sipitu-pitu dan sidua-dua Cue Cahaya: Cahaya merah dan jingga Properti: Gendang Batak, ulos, lampu minyak

Narator (di tengah panggung):

“Tetabuh gonrang sipitu-pitu, pada mandiguri… Kami gualkan, kami tarikan, untukmu kekasih hati…”

Blocking:

  • Penari Gondang menari Tor-Tor mengelilingi gendang.

  • Na Sipuang duduk di tengah, memegang ulos.

🎬 ADEGAN 2 – NA SIPUANG DAN DOA IBU

Cue Musik: Musik sulim dan taganing lembut Cue Cahaya: Cahaya biru dan putih Properti: Bantal bayi, kendi air

Na Sipuang (monolog):

“Engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih… Melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan…”

Suara Gendang (voice-over):

“Sonaha… i huda-hudai do namatei…”

Blocking:

  • Na Sipuang mengayun bantal bayi.

  • Bayangan Enggang menari di latar, gerakan lambat.

🎬 ADEGAN 3 – ANAK DAN CITA-CITA

Cue Musik: Musik ceria, gondang ritmis Cue Cahaya: Cahaya terang Properti: Buku, pena, tas sekolah

Anak Lelaki:

“Aku ingin jadi dokter, Bu…”

Anak Perempuan:

“Aku ingin jadi guru, seperti Ibu dulu…”

Na Sipuang:

“Sejak kandungan harapan ditasbihkan… Setelah lahir kasih mengalir seperti air…”

Blocking:

  • Anak-anak menari dengan buku dan pena.

  • Na Sipuang menatap mereka dengan bangga.

🎬 ADEGAN 4 – BAYANGAN YANG TAK SEMPAT

Cue Musik: Musik sendu, suara angin Cue Cahaya: Cahaya kelabu Properti: Surat tak selesai, ulos sobek

Narator:

“Adakah yang lebih sedih dari tetes tangis ibu… Yang tak sempat tasbihkan harapan…”

Na Sipuang (menangis):

“Yang tak sempat mengalirkan kasih… Yang tak sempat membaca cita-cita…”

Blocking:

  • Na Sipuang duduk sendiri, memegang surat.

  • Penari Gondang menari perlahan, gerakan berat.

🎬 ADEGAN 5 – GENDANG DAN TANGIS

Cue Musik: Gondang cepat dan dramatis Cue Cahaya: Cahaya merah dan putih berkedip Properti: Gendang, air mata simbolik (kendi tumpah)

Na Sipuang:

“Kami tabuh gonrang demi menjeput segala riang…”

Penari Gondang:

“Tetabuh gonrang sipitu-pitu, pada mandiguri…”

Blocking:

  • Tari perang batin: antara duka dan harapan.

  • Air dari kendi ditumpahkan sebagai simbol tangis.

🎬 ADEGAN 6 – TARI HARAPAN DAN KIBASAN ENGGANG

Cue Musik: Musik harapan, gondang lembut Cue Cahaya: Cahaya emas dan biru Properti: Sayap enggang, bunga air

Narator:

“Melalui hembusan angin harapan diterbangkan…”

Bayangan Enggang (menari):

“Kami membawa doa-doa ibu…”

Blocking:

  • Tari simbolik: enggang menari di atas panggung.

  • Na Sipuang berdiri, membuka ulos besar.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: UNTUKMU KEKASIH HATI

Cue Musik: Musik instrumental tenang Cue Cahaya: Cahaya putih terang Properti: Gendang, ulos, bunga

Na Sipuang (monolog):

“Kami gualkan, kami tarikan… Untukmu kekasih hati…”

Semua karakter (bersama):

“O, Na Sipuang, Na Sipuang…”

Blocking:

  • Semua karakter berdiri menghadap penonton.

  • Gendang ditabuh perlahan hingga senyap.

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI SYAIR PERANG SUNGGAL KARYA RAUDAH JAMBAK

Syair Perang Sunggal
Karya : Raudah Jambak

Bismillah itu permulaan kalam
dengan nama Allah Kholikul Alam
di permulaan kitab diperbuat nazam
supaya diingat sejarah yang tersulam

Tahun 1872 dalam kitab dicatatkan
sejarah perang Sunggal mulai dimulakan
tahun 1895 Batak Oorlog lain sebutan
akhir perang besar memakan banyak korban

Datuk Kecil pahlawan yang disebutkan
mempertahankan prinsip dan keyakinan
Datuk Jalil dan Sulong Barat menyambut sahutan
menjaga Sunggal dari kejahatan dan keserakahan

Datuk Kecil menyerang menerjang
bersama Datuk Jalil dan Sulong Barat berjuang
rakyat kecil menjadi semakin senang
jaga Serbanyaman dari amukan perang

Sultan Deli penyebab pertama
Tuanku Mahmud Perkasa Alam namanya
berhubungan dengan pemerintah Belanda
menyerahkan tanah sebagai cinderamata

Maka, perangpun telah dimulai
Korps ekspedisi lalu dipersenjatai
tiga kali pengiriman Sunggal dibantai
khianat Van Stuwe, pahlawan kita terkulai

Perjuangan tidaklah sampai di situ
Datuk Sri Diraja ikut menjadi pemersatu
bersama adiknya, Datuk Alang, terus menyerbu
menghancurkan Belanda, menjadikannya abu

Perlawanan rakyat semakin berapi-api
gerilya Langkat di Gunung Tinggi, jadilah bukti
perang Tuan Rondahain, di Bedagai, semakin berani
gerilya Pak Netek, di Asahan, juga menjadi saksi

Seperti Datuk Kecil dan Datuk Jalil sebelumnya
Datuk Sri Diraja dan Datuk Alang bernasib sama
di bawah rongrongan Belanda dan antek-anteknya
akhirnya, wilayah Datuk Sunggal porak-poranda

Bersungut dawai, berkapan cindai
sifat pahlawan Datuk Kecil telah tersemai
Datuk Sri Diraja Sunggal kemenakan pandai
ikut bersungut dawai, berkapan cindai

Semangat juang pahlawan Sunggal mari dikenang
tidak hanya di mulut tapi ikut berjuang
membangun bangsa yang bercabang-cabang
akibat korupsi yang terus berkembang

Alhamdulillah kami haturkan
puji kepada Allah kami sertakan
segala khilaf dan salah mohon maafkan
niat baik dari kami tolong fahamkan

🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Syair Perang Sunggal – Tanah yang Tak Tunduk

Durasi: ±60 menit Format: Teater musikal sejarah dengan syair naratif, musik Melayu Deli, dan tari kontemporer Bahasa: Indonesia dan Melayu klasik

🧩 KARAKTER

  • Narator Syair

  • Datuk Kecil

  • Datuk Jalil

  • Sulong Barat

  • Datuk Sri Diraja

  • Datuk Alang

  • Sultan Deli (Tuanku Mahmud Perkasa Alam)

  • Van Stuwe

  • Rakyat Sunggal

  • Penari Perang dan Penari Syair

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Kalam dan Nazam5 minNarator membuka dengan syair pembuka
2Awal Perang Sunggal10 minTahun 1872, rakyat mulai melawan
3Datuk Kecil dan Serbanyaman10 minPerlawanan dipimpin oleh Datuk Kecil
4Pengkhianatan dan Ekspedisi10 minSultan Deli dan Van Stuwe memicu perang besar
5Datuk Sri Diraja dan Gerilya10 minPerlawanan menyebar ke Langkat, Bedagai, Asahan
6Kekalahan dan Warisan Juang10 minWilayah porak-poranda, semangat tetap menyala
7Epilog: Syair dan Doa5 minPenutup reflektif dan ajakan membangun bangsa

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Kalam dan Nazam”

Cue Musik: Rebana dan biola Melayu lembut Cue Cahaya: Cahaya kuning hangat Properti: Kitab syair, mimbar kayu

Narator Syair (di tengah panggung):

“Bismillah itu permulaan kalam Dengan nama Allah Kholikul Alam…”

Blocking:

  • Penari Syair menari perlahan di latar.

  • Narator membuka kitab dan membacakan bait pembuka.

🎬 ADEGAN 2 – AWAL PERANG SUNGGAL

Cue Musik: Musik ritmis Melayu Deli Cue Cahaya: Cahaya jingga dan merah Properti: Bendera, tombak, pakaian adat

Datuk Kecil (berdiri di tengah rakyat):

“Tanah ini bukan untuk dijual. Kita jaga Serbanyaman dari amukan perang!”

Rakyat Sunggal (berseru):

“Hidup Sunggal! Hidup Datuk Kecil!”

Blocking:

  • Tari perang dimulai.

  • Narator menyisipkan syair tahun dan peristiwa.

🎬 ADEGAN 3 – DATUK KECIL DAN SERBANYAMAN

Cue Musik: Musik gondang Melayu Cue Cahaya: Cahaya merah dan putih Properti: Ulos, senjata kayu, lentera

Datuk Jalil:

“Kami bersumpah menjaga tanah ini…”

Sulong Barat:

“Demi anak cucu kita, jangan biarkan mereka merampasnya…”

Blocking:

  • Ketiganya berdiri membentuk segitiga, simbol persekutuan.

  • Penari Perang menari di sekeliling mereka.

🎬 ADEGAN 4 – PENGKHIANATAN DAN EKSPEDISI

Cue Musik: Drum kolonial, nada tegang Cue Cahaya: Cahaya biru dan merah Properti: Surat perjanjian, bendera Belanda

Sultan Deli (membaca surat):

“Tanah ini kami serahkan sebagai cinderamata…”

Van Stuwe (tertawa):

“Kini Sunggal milik kami!”

Narator Syair:

“Khianat Van Stuwe, pahlawan kita terkulai…”

Blocking:

  • Tari simbolik penyerahan tanah.

  • Rakyat mundur, suasana tegang.

🎬 ADEGAN 5 – DATUK SRI DIRAJA DAN GERILYA

Cue Musik: Musik cepat, ritme gerilya Cue Cahaya: Cahaya hijau dan jingga Properti: Peta Sumatra Timur, obor

Datuk Sri Diraja:

“Langkat, Bedagai, Asahan… Kita lawan dari segala penjuru!”

Datuk Alang:

“Jangan beri mereka tempat berpijak!”

Blocking:

  • Tari gerilya: penari menyebar ke tiga arah.

  • Proyeksi peta menunjukkan perlawanan menyebar.

🎬 ADEGAN 6 – KEKALAHAN DAN WARISAN JUANG

Cue Musik: Musik sendu, biola dan suling Cue Cahaya: Cahaya kelabu Properti: Kain putih, batu nisan simbolik

Narator Syair:

“Akhirnya, wilayah Datuk Sunggal porak-poranda…”

Rakyat Sunggal (berlutut):

“Tapi semangatmu, Datuk… Telah tersemai dalam darah kami…”

Blocking:

  • Penari Syair menabur bunga.

  • Cahaya perlahan meredup.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: SYAIR DAN DOA

Cue Musik: Musik harapan, nada mayor Cue Cahaya: Cahaya keemasan Properti: Kitab syair, bendera merah putih

Narator Syair:

“Semangat juang pahlawan Sunggal mari dikenang… Tidak hanya di mulut, tapi ikut berjuang…”

Semua pemain (bersama):

“Alhamdulillah kami haturkan… Puji kepada Allah kami sertakan…”

Blocking:

  • Semua karakter berdiri membentuk lingkaran.

  • Bendera dikibarkan perlahan.

 

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI LELAKI TUA DI TENGAH DANAU KARYA RAUDAH JAMBAK

 

🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Lelaki Tua di Tengah Danau – Tuah Gondang dan Doa Tanah Leluhur

Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi musikal dengan musik gondang Batak, multimedia, dan gerak simbolik Bahasa: Indonesia dan Batak Toba

🧩 KARAKTER

  • Narator

  • Lelaki Tua

  • Batara Guru

  • Boru Saniang Naga

  • Boru Deak Parujar

  • Anak-anak Danau

  • Penari Gondang

  • Suara Air dan Angin (voice-over)

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Tuah Gondang5 minNarator membuka dengan kutipan puisi
2Lelaki Tua dan Danau10 minLelaki Tua menari dan berdoa di tengah danau
3Mangase Homban dan Anak-anak10 minRitual untuk Boru Saniang Naga dan Boru Deak Parujar
4Riak dan Rindu10 minAnak-anak bermain, riak dan rindu muncul
5Doa kepada Ompu Mulajadi10 minLelaki Tua menyampaikan doa kepada leluhur
6Tari Sukacita dan Nyanyian Air10 minTari dan nyanyian sebagai penutup ritual
7Epilog: Padamu, Padaku, Pada Kita5 minPenutup reflektif dan simbolik

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Tuah Gondang”

Cue Musik: Gondang sabangunan lembut Cue Cahaya: Cahaya redup, proyeksi danau dan kabut Properti: Ulos, tongkat kayu, batu bundar

Narator (di tengah panggung):

“O Batara Guru… Telah kubuat tuah ni gondang…”

Blocking:

  • Penari Gondang masuk perlahan, menari Tor-Tor lembut.

  • Lelaki Tua duduk di atas batu, memegang tongkat.

🎬 ADEGAN 2 – LELAKI TUA DAN DANAU

Cue Musik: Musik sulim dan taganing Cue Cahaya: Cahaya biru dan hijau Properti: Air buatan, ulos putih

Lelaki Tua (monolog):

“Angin mengelus, air mengalir… Adakah rahasia pada segala…”

Suara Air (voice-over):

“Kami menyimpan jejakmu, Lelaki Tua…”

Blocking:

  • Lelaki Tua berjalan perlahan di tengah danau.

  • Penari Gondang mengiringi dengan gerakan simbolik.

🎬 ADEGAN 3 – MANGASE HOMBAN DAN ANAK-ANAK

Cue Musik: Gondang perang dan gondang mula-mula Cue Cahaya: Cahaya merah dan putih Properti: Air, ulos, kendi

Lelaki Tua:

“Telah kulakukan mangase homban… Agar senang si Boru Saniang Naga…”

Anak-anak Danau (berlarian):

“Kami ingin mencapai dasar danau…”

Blocking:

  • Ritual air dilakukan di tengah panggung.

  • Anak-anak menari dan bermain air.

🎬 ADEGAN 4 – RIAK DAN RINDU

Cue Musik: Musik sendu, suara riak air Cue Cahaya: Cahaya kelabu Properti: Batu kecil, daun, ulos kecil

Narator:

“Riak-riak menciptakan irama… Ah, adakah rindu masih terpaut…”

Blocking:

  • Anak-anak duduk di tepi danau, melempar batu kecil.

  • Lelaki Tua menatap mereka dari kejauhan.

🎬 ADEGAN 5 – DOA KEPADA OMPU MULAJADI

Cue Musik: Musik zikir Batak Cue Cahaya: Cahaya putih terang Properti: Sajadah ulos, dupa, tongkat

Lelaki Tua (berdoa):

“Sampaikan kepada Ompu Mulajadi Nabolon… Jagalah Bona Ni Pasa segala suka…”

Suara Angin (voice-over):

“Kami membawa kabar berita…”

Blocking:

  • Lelaki Tua berdoa di tengah panggung.

  • Penari Gondang menari melingkar.

🎬 ADEGAN 6 – TARI SUKACITA DAN NYANYIAN AIR

Cue Musik: Gondang sabangunan penuh Cue Cahaya: Cahaya keemasan Properti: Ulos besar, bunga air

Narator:

“Menarilah dengan penuh sukacita… Bernyanyilah dengan segala keindahan nada…”

Blocking:

  • Semua karakter menari bersama.

  • Air buatan mengalir di tengah panggung.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: PADAMU, PADAKU, PADA KITA

Cue Musik: Musik instrumental tenang Cue Cahaya: Cahaya senja Properti: Batu, ulos, air

Lelaki Tua (monolog):

“Padamu, padaku, atau pada kita…”

Blocking:

  • Lelaki Tua duduk kembali di atas batu.

  • Semua karakter berdiri menghadap penonton.

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI MEMBACA AWAN MENGHITUNG RINTIK HUJAN KARYA RAUDAH JAMBAK

 

🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Tengtengces: Membaca Awan, Menghitung Rintik Hujan

Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi surealis dengan musik perkusi dapur, multimedia, dan gerak simbolik Bahasa: Indonesia

🧩 KARAKTER

  • Narator

  • Perempuan Dapur

  • Kekasih

  • Kucing Renta

  • Anak-anak Hujan

  • Bayangan Peri dan Tikus

  • Penari Bunyi

  • Suara Hujan (voice-over)

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Tengtengces5 minBunyi dapur sebagai mantra hujan
2Dapur dan Dendam10 minPerempuan Dapur berbicara pada hujan dan kekasih
3Gerimis dan Mimpi10 minMalam, gerimis mengetuk jendela
4Perang Perabotan10 minPiring, gelas, kompor memberontak
5Tikus dan Hidangan Rahasia10 minTikus menyelamatkan sisa semur untuk cinta
6Anak-anak Hujan dan Telur Rebus10 minRebutan telur, meteor, dan kenangan
7Epilog: Sunyi dan Surat Rindu5 minHujan reda, sunyi menghitung rintik terakhir

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Tengtengces”

Cue Musik: Bunyi sendok, panci, gelas kaca Cue Cahaya: Cahaya redup, proyeksi hujan di jendela Properti: Sendok, garpu, panci, gelas

Narator (di tengah panggung):

“Tengtengces, tiktiktak, tengtengces, tiktik pyur…”

Blocking:

  • Penari Bunyi menari sambil memainkan alat dapur sebagai instrumen.

  • Perempuan Dapur berdiri di tengah, menatap langit-langit.

🎬 ADEGAN 2 – DAPUR DAN DENDAM

Cue Musik: Suara air mendidih, ketel bersiul Cue Cahaya: Cahaya jingga dan merah Properti: Kompor, teko, gelas beruap

Perempuan Dapur (monolog):

“Aku memahami irama didih hujan di bilik panci-panci…” “Jangan pernah merasa bahagia atau sedih, karena ia semacam sarapan pagi yang menggigilkan dingin…”

Kekasih (masuk, mengunyah angin):

“Jangan buang. Jual saja.”

Blocking:

  • Perempuan menyentuh uap dari gelas.

  • Kekasih berjalan perlahan, tak menyentuh lantai (dilambangkan dengan gerakan melayang).

🎬 ADEGAN 3 – GERIMIS DAN MIMPI

Cue Musik: Musik ambient malam, suara gerimis Cue Cahaya: Cahaya biru lembut Properti: Jendela, tempat tidur, selimut

Narator:

“Dan ketika kau meninabobokkan malam, gerimis meringis…”

Suara Hujan (voice-over):

“Aku mengetuk jendela, tapi kau menyetubuhi mimpi…”

Blocking:

  • Perempuan tidur, jendela bergetar.

  • Penari Bunyi menari di luar jendela, mengetuk-ngetuk.

🎬 ADEGAN 4 – PERANG PERABOTAN

Cue Musik: Bunyi piring pecah, kompor mendesis Cue Cahaya: Cahaya merah berkedip Properti: Piring, sendok, kompor, kucing

Narator:

“Gelas-gelas panas. Piring-piring sinting. Kompor-kompor menjelma provokator…”

Kucing Renta (gerakan simbolik):

Mengibaskan ekor, menjadi saksi bisu.

Blocking:

  • Perabotan bergerak sendiri (diperankan oleh penari).

  • Kucing duduk di tengah, tak bergerak.

🎬 ADEGAN 5 – TIKUS DAN HIDANGAN RAHASIA

Cue Musik: Musik jazz lembut Cue Cahaya: Cahaya kuning remang Properti: Semur kambing, kantong plastik

Narator:

“Seekor tikus mengutil rimah-rimah semur kambing…”

Bayangan Tikus (monolog):

“Untuk orang-orang tercinta, aku bungkus ini…”

Blocking:

  • Tikus menari di antara meja dapur.

  • Meja keropos digambarkan dengan kain sobek.

🎬 ADEGAN 6 – ANAK-ANAK HUJAN DAN TELUR REBUS

Cue Musik: Musik ritmis, suara hujan deras Cue Cahaya: Cahaya putih dan biru Properti: Telur rebus, ayam, garpu

Narator:

“Anak-anak hujan berebut telur rebus terakhir…”

Anak-anak Hujan (berlarian):

“Itu untuk kucing!” “Tapi aku lapar!”

Blocking:

  • Telur jatuh, meteor melintas (proyeksi).

  • Anak-anak menari di antara pecahan telur.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: SUNYI DAN SURAT RINDU

Cue Musik: Musik sendu, suara angin Cue Cahaya: Cahaya senja Properti: Surat, piring kosong, kain merah jambu

Narator:

“Yang tertinggal hanya gelisah barang pecah belah… Aroma rindu terasi ibu… Surat-surat kerinduan tanpa baris-baris kecemasan…”

Kucing Renta (mengibaskan ekor):

Diam, lalu berjalan ke luar panggung.

Blocking:

  • Perempuan duduk sendiri, memegang surat.

  • Penari Bunyi menutup pertunjukan dengan irama terakhir:

“Tengtengces, tiktiktak, tengtengces, tiktik pyur…”

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI SEKOLAH NAK KARYA RAUDAH JAMBAK

 

Sekolah Nak

Karya: M Raudah Jambak

Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain

Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran

Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi

Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya

Medan, 2004

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Sekolah, Nak – Jalan Menuju Akal Budi

Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi reflektif dengan musik akustik, multimedia, dan gerak simbolik Bahasa: Indonesia

🧩 KARAKTER

·         Narator

·         Ibu

·         Nak (Anak)

·         Bayangan Profesi (Dokter, Jaksa, Hakim, Pedagang, Pemimpin)

·         Guru

·         Penari Doa

·         Suara Hati (voice-over)

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

No

Adegan

Durasi

Deskripsi Singkat

1

Prolog: Sekolah dan Sepatu Lusuh

5 min

Narator membuka dengan kutipan puisi

2

Cita-Cita dan Bayangannya

10 min

Anak membayangkan profesi masa depan

3

Ibu dan Nasihat Kehidupan

10 min

Ibu memberi nasihat tentang tanggung jawab moral

4

Guru dan Pelajaran Akal Budi

10 min

Guru mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan

5

Bayangan Profesi dan Ujian Nurani

10 min

Profesi muncul sebagai tokoh simbolik

6

Doa dan Jalan yang Dipilih

10 min

Anak berdoa dan memilih jalan hidupnya

7

Epilog: Sekolah yang Menumbuhkan

5 min

Penutup reflektif dan simbolik

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Sekolah dan Sepatu Lusuh”

Cue Musik: Petikan gitar lembut Cue Cahaya: Cahaya redup, proyeksi jalan tanah Properti: Sepatu sekolah tua, tas plastik

Narator (di tengah panggung):

“Sekolah, Nak… Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati negeri yang sedang sakit…”

Blocking:

·         Penari Doa menari di latar, gerakan lambat.

·         Ibu duduk di sudut panggung, membersihkan sepatu anak.

🎬 ADEGAN 2 – CITA-CITA DAN BAYANGANNYA

Cue Musik: Musik piano pelan Cue Cahaya: Cahaya berganti-ganti mengikuti profesi Properti: Buku mimpi, papan tulis, jas dokter, palu hakim

Nak (monolog):

“Aku ingin jadi dokter… atau hakim… atau pedagang… atau pemimpin…”

Bayangan Profesi (bergantian):

·         Dokter: “Aku menyembuhkan, tapi kadang lupa menyapa.”

·         Hakim: “Aku menimbang, tapi kadang berat sebelah.”

·         Pedagang: “Aku jujur, jika tak tergoda untung besar.”

·         Pemimpin: “Aku bicara rakyat, jika tak dibungkam kuasa.”

Blocking:

·         Bayangan Profesi muncul satu per satu, berdialog dengan Nak.

·         Cahaya berubah sesuai profesi.

🎬 ADEGAN 3 – IBU DAN NASIHAT KEHIDUPAN

Cue Musik: Musik sendu Cue Cahaya: Cahaya hangat menyinari Ibu Properti: Ember air, kain lap, roti bungkus

Ibu (monolog):

“Nak, jangan hanya hitung-hitungan saja… Sebab pikiranmu nanti akan tertanam sekadar keuntunganmu pribadi…”

Nak:

“Tapi Bu, semua orang bicara untung…”

Ibu:

“Kalau kau tak bisa adil, lebih baik kau jadi pedagang kecil saja…”

Blocking:

·         Ibu dan Nak duduk berdampingan.

·         Penari Doa menari di latar, gerakan melingkar.

🎬 ADEGAN 4 – GURU DAN PELAJARAN AKAL BUDI

Cue Musik: Musik harapan Cue Cahaya: Cahaya putih terang Properti: Papan tulis, buku pelajaran

Guru (monolog):

“Sekolah bukan hanya soal nilai… Tapi tentang menjadi manusia berakal budi…”

Nak:

“Bagaimana caranya, Bu Guru?”

Guru:

“Dengan hati yang tak buta, dan pikiran yang tak culas…”

Blocking:

·         Guru dan Nak berdialog di depan kelas.

·         Cahaya menyinari wajah anak.

🎬 ADEGAN 5 – BAYANGAN PROFESI DAN UJIAN NURANI

Cue Musik: Musik dramatis Cue Cahaya: Cahaya kelabu Properti: Timbangan, uang palsu, mikrofon

Bayangan Profesi (bergantian):

·         Hakim: “Aku menghukum maling ayam dengan cara paling jahanam…”

·         Pemimpin: “Aku naikkan tarif, tapi korupsi tetap bergaransi…”

Nak (berteriak):

“Apakah ini jalan yang harus kupilih?”

Blocking:

·         Bayangan Profesi berdiri mengelilingi Nak.

·         Penari Doa menari di tengah, gerakan menolak.

🎬 ADEGAN 6 – DOA DAN JALAN YANG DIPILIH

Cue Musik: Musik zikir instrumental Cue Cahaya: Cahaya biru lembut Properti: Sajadah, lilin kecil

Nak (berdoa):

“Ya Tuhan, jadikan aku manusia berakal budi… Berhati mulia… bukan sekadar gelar…”

Suara Hati (voice-over):

“Sekolah, Nak… Dalam setiap detik, alirkanlah doa…”

Blocking:

·         Nak berdoa di tengah panggung.

·         Bayangan Profesi perlahan menghilang.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN

Cue Musik: Musik instrumental tenang Cue Cahaya: Cahaya keemasan Properti: Buku bersih, sepatu baru

Narator:

“Sekolah, Nak… Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita manusia berhati mulia… Maka jalanmu telah benar…”

Blocking:

·         Nak berjalan ke depan panggung, mengenakan sepatu bersih.

·         Ibu dan Guru berdiri di belakang, tersenyum.

Sekolah Nak

Karya: M Raudah Jambak

Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain

Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran

Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi

Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya

Medan, 2004