Jumat, 31 Oktober 2025

NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG PUISI SYAIR PERANG SUNGGAL KARYA RAUDAH JAMBAK

Syair Perang Sunggal
Karya : Raudah Jambak

Bismillah itu permulaan kalam
dengan nama Allah Kholikul Alam
di permulaan kitab diperbuat nazam
supaya diingat sejarah yang tersulam

Tahun 1872 dalam kitab dicatatkan
sejarah perang Sunggal mulai dimulakan
tahun 1895 Batak Oorlog lain sebutan
akhir perang besar memakan banyak korban

Datuk Kecil pahlawan yang disebutkan
mempertahankan prinsip dan keyakinan
Datuk Jalil dan Sulong Barat menyambut sahutan
menjaga Sunggal dari kejahatan dan keserakahan

Datuk Kecil menyerang menerjang
bersama Datuk Jalil dan Sulong Barat berjuang
rakyat kecil menjadi semakin senang
jaga Serbanyaman dari amukan perang

Sultan Deli penyebab pertama
Tuanku Mahmud Perkasa Alam namanya
berhubungan dengan pemerintah Belanda
menyerahkan tanah sebagai cinderamata

Maka, perangpun telah dimulai
Korps ekspedisi lalu dipersenjatai
tiga kali pengiriman Sunggal dibantai
khianat Van Stuwe, pahlawan kita terkulai

Perjuangan tidaklah sampai di situ
Datuk Sri Diraja ikut menjadi pemersatu
bersama adiknya, Datuk Alang, terus menyerbu
menghancurkan Belanda, menjadikannya abu

Perlawanan rakyat semakin berapi-api
gerilya Langkat di Gunung Tinggi, jadilah bukti
perang Tuan Rondahain, di Bedagai, semakin berani
gerilya Pak Netek, di Asahan, juga menjadi saksi

Seperti Datuk Kecil dan Datuk Jalil sebelumnya
Datuk Sri Diraja dan Datuk Alang bernasib sama
di bawah rongrongan Belanda dan antek-anteknya
akhirnya, wilayah Datuk Sunggal porak-poranda

Bersungut dawai, berkapan cindai
sifat pahlawan Datuk Kecil telah tersemai
Datuk Sri Diraja Sunggal kemenakan pandai
ikut bersungut dawai, berkapan cindai

Semangat juang pahlawan Sunggal mari dikenang
tidak hanya di mulut tapi ikut berjuang
membangun bangsa yang bercabang-cabang
akibat korupsi yang terus berkembang

Alhamdulillah kami haturkan
puji kepada Allah kami sertakan
segala khilaf dan salah mohon maafkan
niat baik dari kami tolong fahamkan

🎭 NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG

Judul: Syair Perang Sunggal – Tanah yang Tak Tunduk

Durasi: ±60 menit Format: Teater musikal sejarah dengan syair naratif, musik Melayu Deli, dan tari kontemporer Bahasa: Indonesia dan Melayu klasik

🧩 KARAKTER

  • Narator Syair

  • Datuk Kecil

  • Datuk Jalil

  • Sulong Barat

  • Datuk Sri Diraja

  • Datuk Alang

  • Sultan Deli (Tuanku Mahmud Perkasa Alam)

  • Van Stuwe

  • Rakyat Sunggal

  • Penari Perang dan Penari Syair

⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT

NoAdeganDurasiDeskripsi Singkat
1Prolog: Kalam dan Nazam5 minNarator membuka dengan syair pembuka
2Awal Perang Sunggal10 minTahun 1872, rakyat mulai melawan
3Datuk Kecil dan Serbanyaman10 minPerlawanan dipimpin oleh Datuk Kecil
4Pengkhianatan dan Ekspedisi10 minSultan Deli dan Van Stuwe memicu perang besar
5Datuk Sri Diraja dan Gerilya10 minPerlawanan menyebar ke Langkat, Bedagai, Asahan
6Kekalahan dan Warisan Juang10 minWilayah porak-poranda, semangat tetap menyala
7Epilog: Syair dan Doa5 minPenutup reflektif dan ajakan membangun bangsa

🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Kalam dan Nazam”

Cue Musik: Rebana dan biola Melayu lembut Cue Cahaya: Cahaya kuning hangat Properti: Kitab syair, mimbar kayu

Narator Syair (di tengah panggung):

“Bismillah itu permulaan kalam Dengan nama Allah Kholikul Alam…”

Blocking:

  • Penari Syair menari perlahan di latar.

  • Narator membuka kitab dan membacakan bait pembuka.

🎬 ADEGAN 2 – AWAL PERANG SUNGGAL

Cue Musik: Musik ritmis Melayu Deli Cue Cahaya: Cahaya jingga dan merah Properti: Bendera, tombak, pakaian adat

Datuk Kecil (berdiri di tengah rakyat):

“Tanah ini bukan untuk dijual. Kita jaga Serbanyaman dari amukan perang!”

Rakyat Sunggal (berseru):

“Hidup Sunggal! Hidup Datuk Kecil!”

Blocking:

  • Tari perang dimulai.

  • Narator menyisipkan syair tahun dan peristiwa.

🎬 ADEGAN 3 – DATUK KECIL DAN SERBANYAMAN

Cue Musik: Musik gondang Melayu Cue Cahaya: Cahaya merah dan putih Properti: Ulos, senjata kayu, lentera

Datuk Jalil:

“Kami bersumpah menjaga tanah ini…”

Sulong Barat:

“Demi anak cucu kita, jangan biarkan mereka merampasnya…”

Blocking:

  • Ketiganya berdiri membentuk segitiga, simbol persekutuan.

  • Penari Perang menari di sekeliling mereka.

🎬 ADEGAN 4 – PENGKHIANATAN DAN EKSPEDISI

Cue Musik: Drum kolonial, nada tegang Cue Cahaya: Cahaya biru dan merah Properti: Surat perjanjian, bendera Belanda

Sultan Deli (membaca surat):

“Tanah ini kami serahkan sebagai cinderamata…”

Van Stuwe (tertawa):

“Kini Sunggal milik kami!”

Narator Syair:

“Khianat Van Stuwe, pahlawan kita terkulai…”

Blocking:

  • Tari simbolik penyerahan tanah.

  • Rakyat mundur, suasana tegang.

🎬 ADEGAN 5 – DATUK SRI DIRAJA DAN GERILYA

Cue Musik: Musik cepat, ritme gerilya Cue Cahaya: Cahaya hijau dan jingga Properti: Peta Sumatra Timur, obor

Datuk Sri Diraja:

“Langkat, Bedagai, Asahan… Kita lawan dari segala penjuru!”

Datuk Alang:

“Jangan beri mereka tempat berpijak!”

Blocking:

  • Tari gerilya: penari menyebar ke tiga arah.

  • Proyeksi peta menunjukkan perlawanan menyebar.

🎬 ADEGAN 6 – KEKALAHAN DAN WARISAN JUANG

Cue Musik: Musik sendu, biola dan suling Cue Cahaya: Cahaya kelabu Properti: Kain putih, batu nisan simbolik

Narator Syair:

“Akhirnya, wilayah Datuk Sunggal porak-poranda…”

Rakyat Sunggal (berlutut):

“Tapi semangatmu, Datuk… Telah tersemai dalam darah kami…”

Blocking:

  • Penari Syair menabur bunga.

  • Cahaya perlahan meredup.

🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: SYAIR DAN DOA

Cue Musik: Musik harapan, nada mayor Cue Cahaya: Cahaya keemasan Properti: Kitab syair, bendera merah putih

Narator Syair:

“Semangat juang pahlawan Sunggal mari dikenang… Tidak hanya di mulut, tapi ikut berjuang…”

Semua pemain (bersama):

“Alhamdulillah kami haturkan… Puji kepada Allah kami sertakan…”

Blocking:

  • Semua karakter berdiri membentuk lingkaran.

  • Bendera dikibarkan perlahan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar