Sekolah Nak
Karya: M Raudah Jambak
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
Medan, 2004
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
Medan, 2004
NASKAH DRAMATISASI PANGGUNG
Judul: Sekolah, Nak – Jalan Menuju Akal Budi
Durasi: ±60 menit Format: Teater puisi reflektif dengan musik akustik,
multimedia, dan gerak simbolik Bahasa: Indonesia
🧩 KARAKTER
·
Narator
·
Ibu
·
Nak (Anak)
·
Bayangan Profesi (Dokter,
Jaksa, Hakim, Pedagang, Pemimpin)
·
Guru
·
Penari Doa
·
Suara Hati (voice-over)
⏱️ STRUKTUR ADEGAN PER MENIT
|
No |
Adegan |
Durasi |
Deskripsi
Singkat |
|
1 |
Prolog: Sekolah dan Sepatu Lusuh |
5 min |
Narator membuka dengan kutipan puisi |
|
2 |
Cita-Cita dan Bayangannya |
10 min |
Anak membayangkan profesi masa depan |
|
3 |
Ibu dan Nasihat Kehidupan |
10 min |
Ibu memberi nasihat tentang tanggung jawab moral |
|
4 |
Guru dan Pelajaran Akal Budi |
10 min |
Guru mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan |
|
5 |
Bayangan Profesi dan Ujian Nurani |
10 min |
Profesi muncul sebagai tokoh simbolik |
|
6 |
Doa dan Jalan yang Dipilih |
10 min |
Anak berdoa dan memilih jalan hidupnya |
|
7 |
Epilog: Sekolah yang Menumbuhkan |
5 min |
Penutup reflektif dan simbolik |
🎬 ADEGAN 1 – PROLOG: “Sekolah dan Sepatu
Lusuh”
Cue Musik: Petikan gitar lembut Cue Cahaya:
Cahaya redup, proyeksi jalan tanah Properti: Sepatu sekolah
tua, tas plastik
Narator (di tengah panggung):
“Sekolah, Nak… Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan Cita-citamu menjadi
dokter yang mengobati negeri yang sedang sakit…”
Blocking:
·
Penari Doa menari di latar, gerakan lambat.
·
Ibu duduk di sudut panggung, membersihkan sepatu
anak.
🎬 ADEGAN 2 – CITA-CITA DAN BAYANGANNYA
Cue Musik: Musik piano pelan Cue Cahaya:
Cahaya berganti-ganti mengikuti profesi Properti: Buku mimpi,
papan tulis, jas dokter, palu hakim
Nak (monolog):
“Aku ingin jadi dokter… atau hakim… atau pedagang… atau pemimpin…”
Bayangan Profesi (bergantian):
·
Dokter: “Aku menyembuhkan, tapi kadang lupa
menyapa.”
·
Hakim: “Aku menimbang, tapi kadang berat
sebelah.”
·
Pedagang: “Aku jujur, jika tak tergoda untung
besar.”
·
Pemimpin: “Aku bicara rakyat, jika tak dibungkam
kuasa.”
Blocking:
·
Bayangan Profesi muncul satu per satu, berdialog
dengan Nak.
·
Cahaya berubah sesuai profesi.
🎬 ADEGAN 3 – IBU DAN NASIHAT KEHIDUPAN
Cue Musik: Musik sendu Cue Cahaya: Cahaya
hangat menyinari Ibu Properti: Ember air, kain lap, roti
bungkus
Ibu (monolog):
“Nak, jangan hanya hitung-hitungan saja… Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
sekadar keuntunganmu pribadi…”
Nak:
“Tapi Bu, semua orang bicara untung…”
Ibu:
“Kalau kau tak bisa adil, lebih baik kau jadi pedagang kecil saja…”
Blocking:
·
Ibu dan Nak duduk berdampingan.
·
Penari Doa menari di latar, gerakan melingkar.
🎬 ADEGAN 4 – GURU DAN PELAJARAN AKAL BUDI
Cue Musik: Musik harapan Cue Cahaya:
Cahaya putih terang Properti: Papan tulis, buku pelajaran
Guru (monolog):
“Sekolah bukan hanya soal nilai… Tapi tentang menjadi manusia berakal budi…”
Nak:
“Bagaimana caranya, Bu Guru?”
Guru:
“Dengan hati yang tak buta, dan pikiran yang tak culas…”
Blocking:
·
Guru dan Nak berdialog di depan kelas.
·
Cahaya menyinari wajah anak.
🎬 ADEGAN 5 – BAYANGAN PROFESI DAN UJIAN
NURANI
Cue Musik: Musik dramatis Cue Cahaya:
Cahaya kelabu Properti: Timbangan, uang palsu, mikrofon
Bayangan Profesi (bergantian):
·
Hakim: “Aku menghukum maling ayam dengan cara
paling jahanam…”
·
Pemimpin: “Aku naikkan tarif, tapi korupsi tetap
bergaransi…”
Nak (berteriak):
“Apakah ini jalan yang harus kupilih?”
Blocking:
·
Bayangan Profesi berdiri mengelilingi Nak.
·
Penari Doa menari di tengah, gerakan menolak.
🎬 ADEGAN 6 – DOA DAN JALAN YANG DIPILIH
Cue Musik: Musik zikir instrumental Cue Cahaya:
Cahaya biru lembut Properti: Sajadah, lilin kecil
Nak (berdoa):
“Ya Tuhan, jadikan aku manusia berakal budi… Berhati mulia… bukan sekadar
gelar…”
Suara Hati (voice-over):
“Sekolah, Nak… Dalam setiap detik, alirkanlah doa…”
Blocking:
·
Nak berdoa di tengah panggung.
·
Bayangan Profesi perlahan menghilang.
🎬 ADEGAN 7 – EPILOG: SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN
Cue Musik: Musik instrumental tenang Cue Cahaya:
Cahaya keemasan Properti: Buku bersih, sepatu baru
Narator:
“Sekolah, Nak… Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita manusia berhati
mulia… Maka jalanmu telah benar…”
Blocking:
·
Nak berjalan ke depan panggung, mengenakan
sepatu bersih.
·
Ibu dan Guru berdiri di belakang, tersenyum.
Sekolah Nak
Karya: M Raudah Jambak
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
Medan, 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar